Jumat, 17 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Prabowo vs Trump: Bobot Berbeda, Gaya Kepemimpinan Mirip?

Trump dan Prabowo bukan saingan; mereka cermin. Yang satu lebih liar, yang satu lebih terukur—tapi keduanya sama.

Tribunnews.com
PEMIMPIN DUNIA - Prabowo, Donald Trump, Xi Jinping dan Vladimir Putin. 

Prabowo? Sjafrie Sjamsoeddin—sahabat seangkatan Akabri—duduk di Menhan, mantan ajudan dan ADC jadi tulang punggung kabinet. Loyalitas di atas segalanya; efisiensi di atas prosedur.

Dan Prabowo tak berhenti di situ—ia juga angkat banyak sahabat militer, terutama dari Kopassus, baik seangkatan maupun juniornya.

Mereka duduk di jabatan strategis: dari pemerintahan sampai lembaga negara—seperti burung-burung besi yang kembali ke sarang lama, siap menjaga benteng. 

Dan di balik semua itu, ada chemistry yang tak bisa disembunyikan: Trump sangat menghargai Prabowo.

Dalam pertemuan resmi di Washington, Trump pernah bilang, “I don’t wanna be enemy of Mr. Prabowo—he’s a tough guy, smart guy.”

Kata-kata itu bukan basa-basi; Trump beri Prabowo kesempatan emas—dari deal perdagangan timbal balik sampai jabat tangan hangat di Board of Peace.

Foto mereka berdua—Trump pakai dasi merah, Prabowo pakai peci—seperti dua sahabat lama yang saling mengerti, meski dunia mereka beda.

Tapi di balik gemuruh itu, banyak yang bergumam: demokrasi di bawah mereka justru semakin rapuh. Di Amerika, indeks demokrasi Freedom House turun tiga poin sejak Trump kembali—media dibungkam, pengadilan dituduh “korup”, dan polarisasi mencapai puncak.

Di Indonesia, laporan Amnesty International dan CSIS menyebut “demokrasi terpimpin” kembali muncul: oposisi dibungkam, media independen ditekan, lembaga seperti KPK nyaris kehilangan taring.

Yang paling mencolok: oposisi hampir lenyap. Di Indonesia, hampir tak ada lagi suara berani yang menantang Prabowo—semua diam, atau bergabung. Komikapun berpikir dua kali. 

Di Amerika, saat pidato State of the Union kemarin, Trump bicara soal serangan ke Iran—dan seluruh ruangan, Republik maupun Demokrat, berdiri tepuk tangan.

Oposisi? Hanya bayangan. Itu bukan konsensus, tapi penyerahan—salah satu tanda paling jelas demokrasi mulai meredup.

Intervensi fiskal mereka pun mirip: berlebihan, berani, dan kontroversial. Trump weaponize tarif—kenakan 10-15 persen global, bahkan hingga 35% ke negara tertentu, demi “Big Beautiful Bill” tax cuts.

Tarif itu naikkan revenue miliaran dolar, tapi offset pertumbuhan GDP, tekan rumah tangga biasa, dan jadi senjata politik lawan China, Meksiko, Kanada. Ekonom bilang ini excessive—GDP turun 0.5-6%, upah anjlok, meski Trump klaim “tax foreign countries, enrich citizens.”

Prabowo? Sama: potong dana transfer ke daerah 25% jadi Rp650 triliun di APBN 2026, demi program Makan Bergizi Gratis (MBG) Rp223 triliun—sepertiga dari anggaran pendidikan.

Sumber: Tribunnews.com

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved