Selasa, 9 Juni 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Iran Vs Amerika Memanas

Wahabisme, Geopolitik Takfiri, dan Pusaran Konflik Iran Vs Israel-USA

Geopolitik Timur Tengah: warisan kolonial, ideologi Wahabi, dan takfirisme yang terus memecah umat Islam.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Glery Lazuardi
ISTIMEWA
KH IMAM JAZULI - Geopolitik Timur Tengah: warisan kolonial, ideologi Wahabi, dan takfirisme yang terus memecah umat Islam. 

profile tribunners
PROFIL PENULIS
KH Imam Jazuli Lc., MA
Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

KETEGANGAN GEOPOLITIK di Timur Tengah saat ini, yang melibatkan konfrontasi terbuka antara Iran di satu sisi serta Israel dan Amerika Serikat di sisi lain, tidak bisa dibaca sekadar sebagai konflik militer an-sich.

Jika kita menyelami lebih dalam dengan kacamata sejarah terdapat benang merah ideologis yang berkelindan dengan kepentingan kolonialisme lama yang masih menyisakan residu hingga hari ini. 

Lahirnya Arab Saudi tidak dapat dilepaskan dari persekutuan historis antara Muhammad bin Saud dan Muhammad bin Abdul Wahab pada abad ke-19 Momentum krusial terjadi pada awal abad ke-20 melalui kolaborasi dengan Inggris (melalui tokoh seperti T.E. Lawrence dan Kapten Shakespear). 

Gerakan Wahabi, yang muncul di Najd itu tidak tumbuh dalam ruang hampa geopolitik, melainkan dimanfaatkan oleh kekuatan kolonial Inggris sebagai alat strategis.

Fakta sejarah menunjukkan bahwa Inggris, melalui East India Company, melihat potensi besar dalam aliansi antara Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Saud untuk memecah belah kesatuan umat Islam. 

Dengan memberikan dukungan berupa senjata, uang, dan pelatihan kepada kelompok Wahabi, Inggris secara efektif menciptakan duri dalam daging bagi Khilafah Ottoman yang saat itu berkuasa.

Tujuan utama Inggris sangat jelas, melemahkan pengaruh Islam Ottoman yang menjadi penghalang ekspansi kolonial mereka di Timur Tengah

Inggris berkepentingan meruntuhkan Kekhalifahan Utsmaniyah dari dalam, dan gerakan Wahabi memberikan justifikasi teologis untuk melakukan pemberontakan terhadap sesama Muslim.

Kitab Fitnatul Wahhabiyyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (Mufti Syafi'iyyah di Mekkah) mencatat bagaimana gerakan ini sering kali terjebak dalam logika takfiri yang ekstrem. 

Inggris menyadari bahwa kekuatan Ottoman terletak pada persatuan umat di bawah satu khalifah. Oleh karena itu, gerakan Wahabi didorong untuk melakukan pemberontakan bersenjata, mengkafirkan kaum Muslimin yang berbeda pandangan (takfiri), dan meruntuhkan simbol-simbol kekuasaan tradisional Islam.

Referens-referensi otoritatif seperti kitab ‘Unwan al-Majd fi Tarikh Najd karya Ibn Bishr (sejarawan internal Wahabi) justru mengonfirmasi bagaimana label "syirik" dan "bid’ah" digunakan untuk melegitimasi penaklukan wilayah-wilayah Muslim lainnya di Semenanjung Arab. Secara eksternal, gerakan ini menemukan momentumnya saat bersinggungan dengan kepentingan Inggris (Britania Raya) untuk melemahkan Kekaisaran Utsmaniyah (The Sick Man of Europe).

Dalam catatan sejarah yang lebih kritis, seperti yang diungkap oleh Hamid Algar dalam Wahhabism: A Critical Essay, terlihat jelas bagaimana intelijen Inggris (seperti peran kontroversial St. John Philby atau dikenal sebagai Abdullah Philby) memainkan peran dalam mengarahkan stabilitas di kawasan demi mengamankan jalur perdagangan ke India dan akses energi.

Wahabisme, dalam konteks ini, menjadi kekuatan "pendobrak" stabilitas Utsmaniyah yang kemudian memfasilitasi pecahnya kesatuan dunia Islam demi peta baru yang digambar di atas meja perundingan kolonial.

Takfirisme: Dari Doktrin ke Geopolitik

Karakteristik utama yang patut dikritisi adalah watak takfiri—mudah mengafirkan sesama Muslim yang berbeda paham. Dalam eskalasi hari ini, narasi takfiri ini sering kali dipolitisasi ulama wahabi untuk membenturkan sentimen Sunni-Syiah guna mengisolasi pengaruh Iran.

Padahal, jika kita jujur secara intelektual, ketegangan ini lebih bersifat kompetisi pengaruh regional (regional hegemony) daripada perselisihan teologis murni.

Sesuai Minatmu

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved