Selasa, 7 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Dari Masjid ke Dunia: Peran Bahasa Inggris bagi Generasi Muslim

Bahasa Inggris bukan ancaman, tapi jembatan global bagi generasi Muslim untuk bersuara di panggung dunia.

Editor: Glery Lazuardi
HO/IST
BAHASA INGGRIS - Dari halaman masjid, kita bisa belajar: akar tradisi tetap terjaga, tapi dunia menunggu suara kita. 

profile tribunners
PROFIL PENULIS
Kholifuddin Roma
Penulis adalah dosen di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Pontianak

SETIAP Jumat siang, halaman masjid di kampung kami selalu ramai.

Anak-anak berlarian sehabis shalat, remaja berkerumun sambil mengobrol, dan para orang tua duduk di teras membicarakan berbagai hal. Pemandangan itu terasa akrab, hangat, dan sangat khas.

Namun di balik keramaian itu, saya kerap bertanya-tanya: berapa banyak dari mereka yang tahu bahwa di luar tembok kampung ini, ada dunia yang bergerak sangat cepat dan dunia itu berbicara dalam bahasa Inggris?

Pertanyaan itu bukan sekadar retorika. Ini adalah kegelisahan nyata yang saya rasakan ketika menyaksikan banyak pemuda Muslim yang cerdas, tekun beribadah, dan memiliki semangat tinggi tetapi terganjal hanya karena tidak mampu berkomunikasi dalam bahasa internasional.

Mereka gagal melamar beasiswa, tertinggal dalam forum-forum diskusi global, bahkan tidak bisa menyampaikan pesan-pesan indah Islam kepada dunia yang justru sedang haus akan narasi perdamaian dan toleransi.

Sering kali bahasa Inggris dipandang sebelah mata di lingkungan pesantren atau komunitas keislaman tertentu.

Ada anggapan yang meski tidak selalu diucapkan terang-terangan karena itu seolah-olah menyiratkan bahwa mempelajari bahasa Barat sama dengan membuka pintu bagi pengaruh budaya yang bertentangan dengan nilai Islam. 

Padahal, pandangan seperti ini justru memenjarakan generasi Muslim dalam ruang yang semakin sempit, ketika dunia di luar sana terus meluas.

Sejarah Islam sendiri seharusnya menjadi cermin yang jernih untuk mematahkan anggapan keliru itu.

Para ulama besar dari Ibn Rushd hingga Al-Biruni tidak segan menguasai bahasa-bahasa asing demi menyerap ilmu pengetahuan dan menyebarkan gagasan Islam ke penjuru dunia.

Mereka bukan hanya ulama agama tetapi mereka adalah jembatan peradaban. Semangat itulah yang perlu dihidupkan kembali oleh generasi Muslim masa kini, dan bahasa Inggris adalah salah satu jembatan terpenting yang tersedia hari ini.

Di era digital, penguasaan bahasa Inggris bukan lagi sekadar nilai tambah tetapi sudah menjadi kebutuhan dasar.

Sebagian besar literatur ilmiah, platform diskusi internasional, jaringan akademik, hingga kanal-kanal dakwah global beroperasi dalam bahasa Inggris. Ketika seorang pemuda Muslim tidak mampu mengaksesnya, maka dia bukan hanya kehilangan peluang karier atau pendidikan.

Dia juga kehilangan kesempatan untuk hadir dan bersuara dalam percakapan-percakapan besar yang sedang membentuk wajah dunia.

Hal lebih menarik dan sering luput dari perhatian orang Muslim adalah fakta bahwa kemampuan berbahasa Inggris justru membuka akses kepada sumber-sumber keislaman yang sangat kaya.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved