Tribunners / Citizen Journalism
Benarkah Jakarta Sulit Dibenahi karena Dijejali SDM Rendah?
Di balik deretan gedung pencakar langit Jakarta yang bersaing dengan Singapura, apakah kota ini benar-benar dibangun oleh dan untuk SDM yang unggul?
Jakarta Butuh "Revolusi Manusia"
Kita tidak bisa lagi bangga hanya dengan peresmian jalan tol atau jembatan baru. Sudah saatnya Pemerintah Provinsi dan kita semua fokus pada investasi intelektual dan karakter.
Jakarta 2026 tidak butuh lebih banyak beton; Jakarta butuh manusia yang punya kompetensi global dan disiplin lokal.
Untuk memahami mengapa Jakarta 2026 masih bergulat dengan masalah SDM, kita perlu merujuk pada tiga pilar teori manajemen. Pertama, Teori Modal Manusia (Human Capital Theory) dari Gary Becker. Ia berpendapat pendidikan dan pelatihan merupakan investasi yang meningkatkan produktivitas.
Mari kita tengok kebijakan pemerintah provinsi DKI Jakarta. Mereka terlalu banyak berinvestasi pada "Modal Fisik" (jalan tol, LRT) tapi pelit pada "Modal Manusia".
Akibatnya, warga Jakarta memiliki sertifikat pendidikan, tapi tidak memiliki return on investment (ROI) berupa keahlian yang relevan.
Padahal, solusi realistisnya Pemprov DKI Jakarta harus membangun pusat pelatihan berbasis lingkungan (RW/Kecamatan) yang kurikulumnya disusun langsung oleh industri teknologi dan kreatif, bukan sekadar kursus administratif usang.
Pilar kedua, teori Job Characteristics dari Richard Hackman & Greg Oldham. Teori ini menekankan bahwa motivasi dan kinerja seseorang bergantung pada skill variety (variasi keahlian) dan task significance (keberartian tugas).
Sementara masalah di Jakarta banyak tenaga kerja Jakarta terjebak dalam pekerjaan low-skill yang monoton (seperti administrasi dasar atau kurir), sehingga tidak ada ruang untuk mengaktualisasikan diri di tambah biaya Pendidikan di Jakarta semakin mahal, ini menciptakan kejenuhan sosial.
Solusinya, Pemprov DKI Jakarta banyak membangun Digital Nomad Centers dan Co-working yang sifatnya public dan gratis.
Pemerintah perlu menyediakan infrastruktur kerja digital di permukiman padat untuk mendorong warga berpindah dari sektor informal fisik ke ekonomi digital/kreatif yang lebih bernilai tinggi. Pilar ketiga, Teori Budaya Organisasi dari Edgar Schein. Ia berpendapat bahwa budaya adalah pola asumsi dasar yang dipelajari kelompok.
Budaya tidak bisa berubah hanya dengan aturan tertulis, tapi melalui keteladanan dan sistem nilai. Sementara Jakarta memiliki infrastruktur kelas dunia, tapi "Budaya Organisasi" warga masih tertinggal. Perilaku tidak tertib merupakan hasil dari lingkungan yang sikap yang serba membolehkan, sangat toleran, dan minim aturan atau batasan terhadap pelanggaran kecil.
Perilaku masyarakat tersebut dapat diubah dengan Sistem Insentif "Warga Teladan" melalui Super-App (JAKI). Integrasikan perilaku publik (disiplin antre, buang sampah, taat pajak) dengan poin manfaat.
Warga dengan poin tinggi mendapatkan diskon transportasi publik atau prioritas layanan Kesehatan
Berdasarkan tiga pendekatan teori tersebut, pembangunan Jakarta di tahun 2026 tidak boleh lagi menggunakan pendekatan "Top-Down Physical" saja, melainkan harus beralih ke "People-Centered Development".
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/libur-panjang-iduladha-lalu-lintas-di-pusat-kota-jakarta-lancar_20230630_213104.jpg)