Jumat, 10 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

George Soros dan Narasi ‘Antek Asing’ di Indonesia


Nama George Soros kembali jadi sorotan, narasi ‘antek asing’ dipakai delegitimasi kritik sipil terhadap pemerintah

Editor: Glery Lazuardi
Fabrice COFFRINI / AFP
GEORGE SOROS - 
Nama George Soros kembali jadi sorotan, narasi ‘antek asing’ dipakai delegitimasi kritik sipil terhadap pemerintah 

Namun di sisi lain, proyek open society juga menorehkan hasil nyata. Di Slovakia, Polandia, dan negara-negara bekas blok Timur, jaringan OSF membantu membangun fondasi masyarakat sipil yang kemudian menjadi tulang punggung transisi demokrasi.

Di Afrika Selatan, OSF aktif mendanai gerakan antiperseteruan ras pasca-apartheid. Dan Korea Selatan, meski bukan penerima langsung pendanaan Soros, menjadi bukti paling gamblang bahwa narasi “dibiayai asing” tidak pernah mampu membendung perubahan yang lahir dari kemarahan rakyat yang otentik.

Korea Selatan hari ini adalah demokrasi yang kuat bukan karena berhasil mengusir pengaruh luar, melainkan karena membangun institusi yang akuntabel dan masyarakat sipil yang tak bisa dibungkam.

Konteks Indonesia, Antara Narasi dan Fakta

Dalam konteks Indonesia sendiri, diskusi yang bergulir di media sosial menggambarkan OSF dan Soros sebagai “dalang” di balik aksi-aksi kritik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Dokumen yang beredar mengklaim ada suntikan dana hingga ratusan miliar rupiah ke jaringan LSM Indonesia.

Beberapa tokoh dan pengamat intelijen pun memanfaatkan narasi ini untuk membangun wacana ancaman asing.

Namun realitasnya jauh lebih sederhana dan kurang dramatis. OSF memang memiliki rekam jejak pendanaan ke berbagai organisasi masyarakat sipil Indonesia, sebagaimana halnya Ford Foundation, USAID, atau lembaga-lembaga filantropi internasional lainnya.

Pendanaan semacam itu lazim di banyak negara berkembang dan biasanya diarahkan pada penguatan kapasitas organisasi masyarakat sipil, riset kebijakan publik, dan pendidikan hak asasi manusia. Ini bukan rahasia. Ia tercatat dalam laporan keuangan yang bisa diakses publik.

Yang perlu dicermati adalah logika politik di balik narasi “antek asing” ini. Dengan menyematkan label tersebut, maka setiap kritik terhadap kebijakan pemerintah bisa didiskreditkan tanpa harus menjawab substansinya.

Koalisi pengecek fakta dan analis independen pun menegaskan bahwa tuduhan Soros secara aktif membiayai gerakan “pelengseran Prabowo” hingga kini masih berupa spekulasi yang tak terdukung data yang diverifikasi.

Pemerintah sendiri tidak pernah mengeluarkan pernyataan resmi yang secara eksplisit menunjuk Soros sebagai aktor di balik kerusuhan.

Ironi terbesar dari narasi “antek Soros” adalah bahwa ia justru menggerakkan mekanisme penggunaan teori konspirasi untuk menutup debat publik. Sebuah pemerintahan yang sehat seharusnya tidak takut pada kritik baik dari dalam maupun luar negeri.

Ia seharusnya menjawab kritik dengan argumen dan bukti, bukan dengan tuduhan dan label. Masyarakat sipil Indonesia yang kritis bukan produk rekayasa Soros. Ia adalah buah dari puluhan tahun perjuangan melawan otoritarianisme, dimulai jauh sebelum nama Soros dikenal luas di negeri ini. 

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved