Tribunners / Citizen Journalism
Iran Vs Amerika Memanas
Amerika Ulangi Kesalahan Sejarah, Perang Iran Picu Murka Eropa
AS kembali memantik kontroversi dengan blokade Selat Hormuz dan sikap unilateralis terhadap Iran, memicu kegeraman Eropa.
Eropa dibuat takut oleh “mitos komunis” yang dihidupkan oleh AS. Padahal, Eropa dan Rusia sejatinya berbagi ruang hidup (lebensraum) yang sama. Balas budi Eropa kemudian harus berlanjut ketika AS mengobar perang anti-terorisme di Timur Tengah dengan menginvasi Aghanistan dan Irak sepanjang 2001- 2003.
Eropa harus memikul beban dengan dijadikannya beberapa negara seperti Inggris dan Prancis sebagai target serangan teroris karena dukungan yang diberikan kepada AS. Artinya, Eropa secara tidak langsung menerima dampak dari perang yang sejatinya bukan perang mereka.
Dalam konteks Perang AS vis a vis Iran di Timur Tengah yang meletup pada akhir Februari lalu, balas budi Eropa tidak berlanjut. Eropa mengambil sikap tegas untuk tidak terlibat pada sesuatu yang bukan perang mereka. Para pemimpin Eropa seperti Emmanuel Macron, Keir Starmer, dan Pedro Sanchez bahkan secara terbuka menyebut AS melanggar hukum internasional dan tidak berkonsultasi terlebih dahulu dengan sekutu-sekutunya di NATO.
Sikap tegas dan independen Eropa dalam kasus perang Timur Tengah ini dapat dibaca dari optik geostrategi global sebagai upaya menarik diri dari afiliasi strategis yang sekian lama terbangun dengan AS, serta secara jangka panjang menyiratkan kembali komitmen Eropa untuk membangun kembali (rebuilding) Pax Europaea—imperium kekuasaan Eropa secara politik, ekonomi, dan militer di dunia.
Faktor Pendukung Kebangkitan
Ada beberapa faktor yang mendasari tesis tersebut. Pertama, Uni Eropa selaku blok kerja sama ekonomi strategis dari 27 negara Eropa menjadi kekuatan ekonomi global yang sebanding untuk bersaing dengan AS dan Tiongkok secara independen dan kompetitif.
Besaran GDP Uni Eropa berada di kisaran USD 19-22 triliun pada periode 2024-2026 dan beroperasi sebagai pasar tunggal sebagai fondasi ketahanan ekonomi kawasan yang sangat kuat. Kedua, negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Jerman secara progresif memelihara dan mengembangkan kekuatan militernya, bahkan dalam batas yang tidak sepenuhnya diketahui oleh Badan Atom Internasional (IAEA) dan AS sendiri.
Komplain Rusia baru-baru ini terhadap progresivitas nuklir diam-diam negara Eropa menjadi indikatornya. Ketiga, komitmen Eropa untuk berdaulat secara ekonomi melalui pengembangan energi terbarukan (NRE). Jika sudah berada pada tahap established, besar kemungkinan Eropa siap untuk tidak terkoneksi dengan episentrum energi fosil di kawasan manapun.
Cerita bangkit dan munculnya Pax Europaea bukanlah mitos atau hiperbola geopolitik. Eropa kuat dan bersatu adalah konsekuensi logis dari pola hubungan yang terbangun dengan AS sekian dekade lamanya. Banalitas politik luar negeri AS yang koersif dan unilateralis dengan mengobar perang di Iran menjadi titik tolaknya.
Jika benar Pax Euroapea ini secara simultan dibangun oleh negara-negara di dalamnya, maka akan menjadi kabar baik bagi multipolarisme dunia. Kehadiran Pax Europaea yang kuat akan menjadi perimbangan kekuatan (balance of power) yang tangguh bagi AS dan kekuatan dunia manapun yang cenderung merusak tatatan perdamaian global.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/boy-anugerah-sip-msi-mpp-1775123701831.jpg)