Tribunners / Citizen Journalism
'Gaskan' Gas: Menggeser Cara Pandang
Akar persoalan ketahanan energi Indonesia bukan semata terletak pada dinamika geopolitik yang berimbas gejolak harga minyak dunia.

"SALAH MERENCANAKAN berarti sama dengan merencanakan kegagalan". Begitulah kira-kira suara peringatan yang belakangan ini nyaring terdengar.
Hal ini merespons pengumuman pemerintah terkait penemuan sumur gas raksasa Geliga-1 di Blok Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur oleh Eni (Italia) menjadi sorotan media internasional.
Bahkan Reuters menyebutnya major offshore gas discovery, dengan estimasi sekitar 5 triliun kaki kubik (TCF) gas dan sekitar 300 juta barel kondensat.
Dan apabila digabungkan dengan temuan gas sebelumnya sekitar 2 TCF, maka hanya dari satu kawasan Cekungan Kutai, Indonesia telah menambah sekitar 7 TCF cadangan strategis baru.
Dibalik setiap penemuan cadangan migas baru, selalu diikuti rasa kekhawatiran.
Apakah kandungan gas yang besar itu bisa mendongkrak kesejahteraan rakyat? Atau jangan-jangan hanya sampai di euphoria sesaat, setelah itu tidak jelas arahnya.
Jawabannya: tergantung strategi kebijakan energi yang diambil pemerintah. Akankah mengulang kisah masa lalu? Atau kita kembali menjadi negeri yang mendapat kutukan sumber daya alam.
Rasanya sudah cukup kita mendapat pelajaran berharga dari East Natuna atau Natuna D-Alpha, salah satu ladang gas terbesar di dunia.
Dengan cadangan yang dapat diproduksikan sekitar 46 TCF. Sayangnya, selama bertahun-tahun, Natuna lebih dikenal sebagai proyek yang tertunda daripada proyek yang bergerak.

Atau kurangnya cadangan. Tapi ada pada cara pandang jangka pendek yang telah menahun dalam pengambilan kebijakan. Kalau mau jujur, kita terlalu sering memperlakukan sumber daya sebagai hasil akhir, bukan modal awal.
Gas, misalnya, masih terlalu sering dibaca hanya sebagai penerimaan negara atau ekspor jangka pendek.
Kita terlena dan dininabobokan kenyamanan semu. Padahal, nilai strategis sesungguhnya terletak pada hilirisasi: pupuk, petrokimia, listrik industri, LNG, manufaktur, hingga daya saing ekspor nasional.
Kita bisa berkaca pada negara lain. Norwegia, misalnya, tidak kaya karena minyak. Ia kaya karena tata kelola minyak. Di Asia, Qatar, tidak menjadi “raja gas” karena hanya memiliki cadangan besar. Ia kuat karena strategi geopolitik gas.
Pada titik inilah peran negara menjadi sangat menentukan. Tidak cukup hanya hadir dalam wujud izin eksplorasi.
Namun harus mendesain arah industrialisasi yang searah dengan strategi transisi energi kita.
Gas harus memperkuat industri pupuk nasional, menopang ketahanan pangan, menghidupkan petrokimia, menjaga listrik industri tetap kompetitif, dan memperkuat ekspor bernilai tambah.
Syukurlah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sangat memahami kekhawatiran tersebut.
Ia melewati wacana tapi sudah menggaskan dengan menindaklanjuti temuan cadangan gas jumbo di Kaltim itu.
"Tidak lama lagi dinda, langsung kita gaskan. Ini lagi proses tender," ujarnya menjawab wartawan dalam konperensi pers, belum lama ini.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/fasilitas-produksi-sumur-gas-randugunting.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.