Tribunners / Citizen Journalism
Deep Learning ‘Sepatu Lama dalam Kardus Baru’
Istilah deep learning menjadi topik hangat untuk diperbincangkan dalam ruang diskusi publik.
Sayangnya, dinamika komunikasi publik yang kurang utuh di awal pengenalannya di Kurikulum Merdeka sempat memicu disinformasi. Banyak orang menganggap deep learning adalah sebuah kurikulum baru yang menggantikan kebijakan sebelumnya. Padahal ia hanyalah sebuah pendekatan untuk meningkatkan proses dan kualitas pembelajaran.
Oleh karena itu, penting bagi semua pihak, khususnya kalangan pendidikan dan pemangku kebijakan untuk tidak terjebak pada sekadar istilah tren atau jargon semata. Karena keberhasilan implementasi deep learning dalam pembelajaran tidak diukur dari seberapa fasih insan pendidikan melafalkan konsep tersebut. Ada proses yang jauh lebih esensial untuk dipahami, dilaksanakan, dan diwujudkan dalam ruang kelas kita.
Guru seyogyanya mampu merancang interaksi kelas yang benar-benar memantik rasa ingin tahu, keterlibatan aktif dan bermakna bagi siswa.
Ingat, pendekatan ini berakar pada prinsip pembelajaran esensial yang secara kognitif maupun empiris telah diuji.
Maka sangat mungkin, pembelajaran berbasis mindful, meaningful, dan joyful learning telah guru terapkan di ruang kalas, jauh sebelum istilah deep learning populer.
(*)
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/proses-pembelajaran-tatap-muka-siswa-smp-n-9-semarang_20210504_130238.jpg)