Tribunners / Citizen Journalism
Angkutan Umum Terintegrasi Solusi Macet di Bandung
Kemacetan di Kota Bandung bukan lagi sekadar persoalan waktu yang terbuang. Angkutan umum terintegrasi bisa jadi solusi.
Kendala kedua adalah keterbatasan armada dan masalah headway (waktu tunggu) . Jumlah bus yang siap beroperasi saat ini dinilai belum ideal untuk melayani seluruh koridor secara optimal. Keterbatasan ini, jika dikombinasikan dengan kemacetan jalan raya, menciptakan efek domino pada waktu tunggu penumpang yang bisa membengkak hingga 30 menit bahkan satu jam pada waktu-waktu tertentu. Selain itu, demi meminimalkan kerugian operasional akibat rendahnya tingkat keterisian ( load factor ), jadwal keberangkatan bus terkadang sengaja diatur pada batas waktu maksimum.
Kendala ketiga terletak pada masalah pemeliharaan dan SDM . Berdasarkan data evaluasi dinas terkait, manajemen operasional TMB di bawah BLUD UPTD Angkutan menghadapi tantangan berat dalam kapasitas perawatan armada. Jumlah tim mekanik untuk maintenance harian relatif terbatas jika dibandingkan dengan total unit bus yang harus dirawat. Akibatnya, perbaikan armada yang mengalami kerusakan teknis sering kali memakan waktu lama, yang pada gilirannya mengurangi jumlah bus yang siap beroperasi di koridor.
Keempat, penurunan kualitas (degradasi) fasilitas prasarana, khususnya halte . Banyak halte TMB di berbagai koridor kini dalam kondisi kurang terawat, rusak, atau bahkan beralih fungsi. Di beberapa titik, lokasi penempatan halte kurang ramah bagi pejalan kaki karena terhalang oleh parkir liar dan pedagang kaki lima. Selain itu, sebaran halte cenderung belum merata di seluruh wilayah kota; konsentrasinya masih dominan di jalur-jalur utama tertentu saja seperti area pusat dan utara, sementara kawasan penyangga belum terlayani dengan optimal.
Kelima, friksi sosial dengan angkutan lokal (angkot) . Sejak awal perencanaan dan operasionalnya, TMB kerap menghadapi resistensi dari pengemudi angkutan kota (angkot) eksisting. Tumpang tindih rute ( overlapping ) antara jalur bus TMB dan trayek angkot memicu kekhawatiran akan penurunan pendapatan di kalangan sopir angkot. Gesekan ini sempat beberapa kali memicu konflik sosial yang mengakibatkan operasional koridor tertentu tidak dapat berjalan maksimal sesuai desain awalnya.
Keenam, rendahnya load factor dan kuatnya budaya kendaraan pribadi . Tingkat keterisian penumpang ( load factor ) TMB rata-rata masih berada di bawah target ideal, bahkan sering kali di bawah 50 persen. Hal ini tidak lepas dari tingginya angka kepemilikan kendaraan pribadi di Kota Bandung. Selama layanan transportasi publik belum menawarkan keunggulan kompetitif dalam hal kecepatan, akibat ketiadaan jalur khusus dan kenyamanan yang terintegrasi, masyarakat akan cenderung tetap memilih sepeda motor atau mobil pribadi untuk mobilitas harian mereka.
Ketujuh, tantangan integrasi dan digitalisasi . Sistem pembayaran non-tunai ( cashless ) dan integrasi tarif/rute antar-moda (misalnya antara TMB, Trans Metro Pasundan/TMP, dan angkot lokal) masih dalam proses penyempurnaan dan belum sepenuhnya menyatu (seamless). Selain itu, sistem informasi penumpukan penumpang atau pelacakan posisi bus secara real-time (real-time tracking) belum diimplementasikan secara menyeluruh di setiap halte untuk memudahkan navigasi pengguna.
Catatan akhir
Pada akhirnya, membenahi transportasi di Cekungan Bandung bukan sekadar masalah menambah jumlah bus atau meremajakan armada.
Keberhasilan migrasi warga dari kendaraan pribadi ke transportasi umum sangat bergantung pada keberanian Pemerintah Kota Bandung untuk mewujudkan sistem yang terintegrasi penuh, mulai dari jalur khusus, kepastian waktu, hingga kemudahan digital, demi mengembalikan kenyamanan mobilitas di Kota Kembang.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Trans-bnadung.jpg)