Dimas Kanjeng Ditangkap
Pengacara Padepokan Dimas Kanjeng Ikut Tertipu Rp 35 Miliar, Ini Barang Buktinya
Daftar dugaan penipuan dengan modus penggandaan uang yang dilakukan Dimas Kanjeng Taat Pribadi terus bertambah.
Editor:
Mohamad Yoenus
Namun di bagian tengah isinya cuma 1 dollar AS. Total pecahan dollar AS sebanyak 42 bendel yang masing-masing bendel berisi 1.000 lembar.
"Versi dari pelapor, dari satu bendel uang itu diambil dua lembar, masing-masing pecahan 1 dollar AS dan 100 dollar AS. Uang dibawa ke money changer dan laku, kemudian dipakai belanja oleh korban," terangnya.
Setelah korban mendengar Dimas Kanjeng ditangkap karena diduga terlibat pembunuhan Ismail Hidayah dan Abdul Gani serta dilaporkan penipuan dengan modus penggandaan uang, korban memberanikan diri untuk membuka.
Ternyata di dua koper yang tidak boleh dibuka berisi pecahan uang Euro, Real, India dan lainnya.
Apakah uang dari berbagai negara yang ada itu palsu? Sayangnya Kombes Argo belum bisa memastikan.
"Nanti akan diuji tim ahli apakah itu asli atau palsu," katanya.
Yang menjadi agak aneh dalam pecahan uang yang ada, misalnya mata uang Euro dibungkus kertas cokelat dan dibungkus plastik.
Bungkusan uang tersebut ditulis dengan huruf cetak "Serve Bank of Eropa (Euro Fifty) Gudang 01&03 Jateng".
Begitu pula dengan pecahan mata uang negara lain juga ditulis serupa.
Diduga pecahan uang yang dibungkus kertas cokelat itu dicetak dan dibungkus oleh kaki tangan Taat.
Meski demikian, penyidik belum berani memastikan uang tersebut palsu.
Kertas yang dipakai untuk mencetak uang seperti kertas HVS, karena saat ditarik mudah robek dan saat diremas mudah lusuh.
Sementara Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) pusat, Lilik Pintauli Siregar yang ikut dalam rilis barang bukti, menjelaskan pihaknya telah memback up para korban penipuan.
Selama ini, LPSK mendampingi 14 korban baik di Mabes Polri dan Polda Jatim.
"Intinya, kami mendampingi korban supaya dapat mendapatkan perlindungan hukum sesusai dengan kaidah hukum yang berlaku. Yang paling penting kami memastikan tidak ada kekerasan dan intimidasi dari pihak manapun," ujar Lilik.
Selama mendampingi korban penipuan ini, korban merasa takut dengan ancaman orang suruhan Taat Pribadi. Salah satunya adalah tewasnya Ismail Hidayah dan Abdul Gani. Para korban trauma dan takut bertemu. (*)