Kamis, 14 Mei 2026

Ikan Sapu Sapu

Ditangkap dan Dimusnahkan, Mengapa Ikan Sapu-sapu Tidak Diolah Jadi Makanan?

Bukan sekadar hama, ikan sapu-sapu ternyata membawa risiko kesehatan serius bagi manusia. Ini alasan ikan tersebut harus dimusnahkan.

Tayang:
Editor: Content Writer
Tribunnews.com/Alfarizy Ajie Fadhillah
IKAN SAPU-SAPU - Ribuan ikan sapu-sapu berhasil ditangkap dari perairan Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memilih memusnahkan ikan invasif tersebut karena kandungan logam beratnya berbahaya apabila dikonsumsi. 

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta saat ini tengah gencar memberantas populasi ikan sapu-sapu di perairan Ibu Kota. 

Ribuan ikan yang berhasil ditangkap justru dikubur dan dimusnahkan, bukan diolah menjadi bahan pangan.

Operasi penangkapan digelar serentak di lima wilayah kota administrasi Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bahkan meninjau langsung gerakan tersebut di Jalan Janur Elok, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026).

Langkah ini sempat memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat awam. Banyak yang bertanya-tanya, mengapa ikan sebanyak itu dimusnahkan, bukan dimanfaatkan sebagai sumber protein yang bisa dikonsumsi?

Jawabannya terletak pada dua hal, yakni karakter biologis ikan sapu-sapu sebagai spesies invasif sekaligus bahaya kesehatan yang mengintai apabila ikan tersebut dikonsumsi.

Spesies Invasif yang Merusak Ekosistem

Diberitakan Kompas.com, Jumat (17/4/2026), ikan sapu-sapu kini mendominasi lebih dari 60 persen perairan di Ibu Kota berdasarkan telaah Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta. Dominasi tersebut dinilai mengancam keberlangsungan ikan endemik lokal.

Ancaman tersebut muncul karena ikan sapu-sapu memakan telur ikan lain sehingga populasi ikan lokal sulit bertahan. Selain itu, Pramono menyebut ikan tersebut juga merusak dinding sungai karena kebiasaannya menggerogoti saat membuat sarang.

Sifat invasif ikan sapu-sapu sebenarnya tidak terlepas dari asal-usulnya. Secara ilmiah, ikan yang dikenal dengan nama latin Pterygoplichthys pardalis ini berasal dari Sungai Amazon, Amerika Selatan, dan tergolong ikan asing introduksi di perairan Indonesia.

Dominasi ikan sapu-sapu semakin sulit dibendung karena kemampuan reproduksinya yang sangat tinggi. Pakar ikan dan konservasi ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University Charles PH Simanjuntak menjelaskan, seekor betina mampu menghasilkan hingga 19.000 telur dalam satu siklus dan dapat berkembang biak beberapa kali dalam setahun.

"Satu ekor ikan jantan dapat membuahi dua ekor ikan betina. Ikan jantan akan menjaga telur di dalam liang yang mereka gali sampai menetas sehingga sintasan (persentase kelangsungan hidup) bisa mencapai lebih dari 90 persen," kata Charles seperti dikutip dari laman resmi IPB University.

Tingginya tingkat kelangsungan hidup tersebut diperparah dengan tidak adanya predator alami di perairan Jakarta. Padahal, di habitat aslinya, ikan sapu-sapu dimangsa oleh Common Snook, Tarpon, buaya Spectacled Caiman, hingga burung Neotropic Cormorant.

Bahaya Logam Berat yang Mengintai

Alasan utama ikan sapu-sapu tidak disarankan dikonsumsi sebenarnya berkaitan erat dengan habitatnya. Ikan ini terbiasa hidup di perairan tercemar limbah industri dan domestik, tetapi anehnya tidak mati keracunan.

Bukannya mati, ikan sapu-sapu justru melakukan bioakumulasi. Sebagaimana dilansir laman IPB University, proses tersebut merupakan kemampuan tubuh ikan menyerap dan menyimpan zat beracun di dalam jaringannya sehingga kandungan logam berat pada ikan dari perairan tercemar sangat tinggi.

Temuan di lapangan memperlihatkan gambaran yang cukup mengkhawatirkan. Charles menyebut, beberapa logam berat yang ditemukan dalam tubuh ikan sapu-sapu Sungai Ciliwung, di antaranya timbal (Pb), merkuri (Hg), dan kadmium (Cd).

Logam-logam tersebut paling banyak terakumulasi di daging, insang, dan hati. Padahal, bagian-bagian itu yang biasanya diolah menjadi santapan oleh sebagian masyarakat.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved