Rabu, 15 April 2026

Sumur Minyak Boyolali

Muhtadi Jual Minyak Tanah Olahan Sendiri

Sejak berhasil mengolah atau menyuling sendiri minyak Lantung atau minyak yang belum diproses

Editor: Hendra Gunawan

Laporan Wartawan Tribun Jogja, Obed Doni Ardianto

TRIBUNNEWS.COM, BOYOLALI – Sejak berhasil mengolah atau menyuling sendiri minyak Lantung atau minyak yang belum diproses, Muhtadi (40) mulai menjual minyak tanah olahannya sendiri kepada para tetangga.

“Saya jual Rp 7.000 per liternya. Yang jelas lebih murah dari harga minyak tanah dari pemerintah,” ucapnya, Boyolali, Selasa (21/2/2012).

Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang kayu tersebut segera memutar otak untuk mencari cara agar bisa menampung minyak itu dan kemudian mengolahnya. Dia kemudian menggali lobang sekitar 50 centimeter. Kemudian lubang tersebut dimasukan tong cat setinggi 75 centimeter.

“Bagian dasarnya saya lubangi dan sisi bagian bawah juga dilubangi kecil. Ini berfungsi supaya minyak yang merembes bersama ait tersebut dapat tertampung dalam tong tersebut. Jika sudah hamper penuh, minyak yang becampur air tadi saya tuangkan ke dalam ember yang sisi bawahnya saya lubangi seperti teko,” jelasnya.

Ember tersebut berguna untuk mengurangi minyak. Sesuai dengan hukum kimia, air selalu berada di bawah dan terpisah dengan minyak, maka Muhtadi menggunakan hokum tersebut dalam menerapkan fungsi dari ember tersebut. “Setelah hampir penuh kemudian saya ambil menggunakan jerigen lima literan,” imbuhnya.

Dalam sehari, dari minyak lantung yang diambilnya, pria beranak dua itu dapat menghasilkan minyak tanah sekitar tujuh sampai delapan liter. Namun proses penyulingannya hanya dilakukan dengan sederhana dan menggunakan ilmu kira-kira.

“Prosesnya hanya perkiraan, tapi minyak tanah saya sudah digunakan warga di sini sudah sekitar tiga tahun. Bahkan saya juga menghasilkan solar yang saya jual dengan harga Rp 4.000 per liter dan baru digunakan satu atau dua truk. Selain itu juga oli samping yang baru saya coba sendiri,” tuturnya.

Meski demikian, Muhtadi mengalami kendala memproduksi minyak tanah olahannya sendiri di kala musim penghujan. Pasalnya, sungai yang deras terkadang menghanyutkan minya k yang ditampungnya, bahkan kaleng untuk menampung minyak tersebut. “Beberapa saat lalu juga, tanah di bukit tersebut longsor dan menggali lagi,” katanya.

Titik tempat keluarnya minyak tersebut tampaknya hanya berada di satu titik. Pasalnya, saat Muhtadi mencoba menampung minyak di tempat yang berbeda namun di bukit sama, tidak terdapat minyak yang berhasil dikumpulkan.

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved