II World Media Summit
Aktivis Akan Dilibatkan dalam World Media Summit
Perang, korupsi, dan preman terorganisir mengancam kebebesan pers
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Dahlan Dahi, dari Moskow
TRIBUNNEWS.COM - Aktivis media massa di daerah perang dan revolusi akan dilibatkan sebagai peserta III World Media Summit 2014 di Bahrain.
Ini merupakan salah satu langkah maju dari hasil diskusi dua hari pada II World Media Summit di gedung World Trade Center, Moskow, yang berakhir hari Jumat (6/7/2012).
Pada World Media Summit pertama di China, 2009, peserta terutama terdiri atas delegasi pimpinan puncak kantor berita (news agency) dari seluruh dunia.
Di Moskow, kantor berita Rusia Itar-Tass sebagai penyelenggara mengundang pengelola media online. Tribunnews.com dan Detikcom mewakili Indonesia. Undangan lain adalah kantor berita Antara, TVRI, dan RRI.
Forum Moskow dihadiri sekitar 300 CEO dan pimpinan puncak 213 media massa dari 102 negara.
Dalam diskusi muncul beragam masalah yang dihadapi media massa (cetak, online, televisi, dan radio) saat ini.
Media massa tersebut, atau yang disebut sebagai media tradisional, menghadapi masalah besar sejak social media (antara lain) melalui facebook, twitter, blog, dan YouTube mendapatkan banyak pengakses di seluruh dunia.
Media sosial itu, seperti media tradisional, mampu memproduksi content (berita, foto, dan video) serta mendistribusikannya dengan cepat dan murah.
Masalah lain, terutama di Eropa, media online terus meningkat pembacanya, sementara media cetak turun dratis sehingga beberapa harus tutup total atau migrasi ke media online.
Di Rumania, misalnya, koran tertua tinggal mengelola oplah (jumlah eksemplar koran yang dicetak) sekitar 50 ribu dari sebelumnya satu juta eksemplar.
Di Spanyol, keadaan juga buruk karena beberapa koran cetak terpaksa tutup dan migrasi ke online.
Ini agak berbeda dengan perkembangan di Asia seperti Jepang, China, Singapura, dan Indonesia. Oplag surat kabar relatif stabil (India bahkan terus naik, Indonesia sempat turun) sementara pendapatan iklan juga naik. Pada saat yang sama, media online berkembang dengan pesat dan merebut kue iklan.
Dalam diskusi muncul keyakinan bahwa media tradisional akan terus bertahan dan tumbuh justru karena karakter dasarnya yang mengabdi kepada publik.
Pengabdian kepada publik menuntun media massa tradisional untuk senantiasa menjunjung tinggi tanggung jawab dan etik profesi, berlandaskan semangat melaporkan kebenaran, imparsial, independen, mengabdi pada kemanusiaan.