Selasa, 19 Mei 2026

II World Media Summit

Aktivis Akan Dilibatkan dalam World Media Summit

Perang, korupsi, dan preman terorganisir mengancam kebebesan pers

Tayang:
Penulis: Dahlan Dahi

Nilai-nilai tersebut menjadi roh dari semua informasi yang diproduksi dan didistribukan media tradisional, sementara social media --yang dikelola oleh siapa saja yang bisa terkoneksi dengan internet-- memproduksi informasi dan mendistribusikan tanpa nilai-nilai luhur jurnalisme tersebut.

Dalam konteks itu, salah satu pembicara dari Finlandia mengatakan, dunia semakin membutuhkan profesi jurnalis (berikut media tradisional-nya) justru karena media sosial memproduksi begitu banyak informasi yang tidak tersortir.

"Dalam lautan data, Anda membutuhkan panduan," katanya. "Lautan data seperti restoran yang penuh aneka makanan tanpa daftar menu. Anda akan bingung memilih. Dan, pada akhirnya yang akan dipilih adalah yang dikenali memiliki kualitas."

Karena itu, seperti profesi jurnalis, kualitas informasi menjadi semakin lebih penting dari sebelumnya.

Begitu luhurnya misi profesi wartawan, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) --yang mengutus wakilnya dalam summit-- membawa misi untuk mengingatkan peserta mengenai betapa pentingnya bekerja dalam kondisi yang bebas dari intervensi politik dan ancaman dari kelompok non-negara seperti kelompok premanisme.

PBB, di sisi lain, juga mengingatkan bahwa misi dasar lembaga dunia itu, seperti dikatakan Sekjen PBB Ban Kim-Moon, adalah mendorong kebebasan berekspresi semua warga negara.

"Freedom of expression is a basic human right and a core United Nations mission," kata Ban Kim-Moon dalam pidato saat membuka II World Media Summit di New York yang dipancarkan ke ruangan sidang di Moskow melalui siaran televisi.

Kebebasan berekspresi, Kim mengingatkan, adalah hak asasi manusia yang paling mendasar dan merupakan ini misi PBB.

Press bebas bersendikan kebebasan berekspresi. Karena itulah, social media sebagai lembaga kebebasan berekspresi harus dijaga dan dilindungi.

"Kebebasan berekspresi di internet harus dilindungi," kata Assistant Director-General PBB untuk  Komunikasi dan Informasi, Janis Karklins, yang ikut hadir di Moskow.

PBB juga concern pada gejala terhambat atau terancamnya kebebasan pers di daerah perang dan konflik. Lebih dari itu, wartawan di seluruh dunia juga menghadapi ancaman kebebasan pers dari gangster, kelompok preman, mafia narkota, penjual senjata dan oknum-oknum elite negara yang melakukan korupsi.

PBB, bersama-sama lembaga pers dan aktivis media massa, menyatakan komitmen untuk melindungi nilai-nilai jurnalisme dan pers.(*)

 

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved