Konsep Islam Moderat Harus Menghujam di Indonesia
Konflik-konflik bernuansa agama, baik di internal umat Islam maupun antara umat Islam dengan agama lain sering kali mengemuka dan terjadi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Umat Islam perlu menerapkan konsep Islam moderat guna mencegah konflik-konflik bernuansa agama, baik di internal umat Islam maupun antara umat Islam dengan agama lain yang sering mengemuka dan terjadi hampir diberbagai daerah.
"Umat Islam harus lebih banyak menerapkan konsep dan pemahaman Islam yang moderat, yang menghargai bukan saja aliran lain di dalam Islam, tetapi juga umat beragama lain," ujar DR. Zainul Majdi, Sabtu (7/7/2012) disela pertemuan yang disebut “Multaqa Nasional II dan Seminar Internasional Tentang Moderasi Islam” yang diadakan alumni Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.
Zainul yang kini menjabat Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) itu mengatakan, kokohnya pemahaman moderasi Islam akan berimbas pada prilaku umat yang menjunjung tinggi perbedaan dan toleransi. Inilah yang dibutuhkan umat saat ini di tengah perubahan perubahan sosial yang dahsyat.
“Jadi jika pemahaman Islam yang moderat atau lebih sering disebut moderasi Islam, gesekan maupun konflik tidak akan terjadi. Karena itu, konsep Islam yang moderat harus lebih kokoh menghujam di bumi Indonesia,” tandasnya.
Selaku alumni dan panitia Multaqa Nasional II dan Seminar Internasional Tentang Moderasi Islam, Zainul menyatakan, hasil penelitian alumni Al Azhar yang tersebar diseluruh tanah air, menemukan fakta bahwa masalah terkait pemahaman dan implementasi Islam yang kurang moderat, menyebabkan munculnya benih-benih konflik. Karena itu, alumni Al Azhar menegaskan perlunya pemahaman dan implementasi lebih jauh mengenai moderasi Islam.
Lebih lanjut Zainul mengatakan, forum ini menjadi ajang silaturahim para alumni Al Azhar dan sharing tentang berbagai persoalan menyangkut pemahaman agama dan sumbangsih para alumni bagi kemajuan umat dan bangsa.
Lalu langkah apa yang harus dilakukan ulama dan tokoh masyarakat untuk meredakan ketengangan dan menyelesaikan konflik bernuansa agama, gubernur termuda ini menyarankan para ulama dan tokoh masyarakat lebih nyaring menyuarakan pentingnya moderasi Islam dan mengeliminir paham-paham kebebasan tanpa batas, klaim paling benar dan fitnah serta menyalahkan pihak lain.
Padangan sama juga disampaikan Wakil Mufti Besar besar Mesir, Prof. Mohammad Anwar Salabi dan Wakil Rektor Universitas Al Azhar, Prof. Hasan Awad yang menegaskan perlunya moderasi Islam lebih diterapkan di Indonesia, mengingat negara ini terdiri atas berbagai suku, agama dan ras.
Dubes Mesir untuk Indonesia, Ahmed El Kewaisny yang hadir dalam acara ini juga menyarankan agar ormas-ormas Islam di Indonesia menjauhkan pola-pola kekerasan dan lebih menekankan pada sikap-sikap dan nilai serta prinsip moderat.
Acara Multaqa Nasional II dan Seminar Internasional Tentang Moderasi Islam diikuti 350 tokoh alumni Al-Azhar dari berbagai daerah di Indonesia dan utusan dari Universitas Al-Azhar Mesir itu dibuka Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali. Dalam pidatonya, Menag menekankan pentingnya pemahaman dan implementasi moderasi Islam.
Dalam kaitan itu, dia mengungkapkan dua tantangan besar Islam Indonesia, yakni kecenderungan kelompok yang makin ekstrim, yang menganggap dirinya paling benar dan seringkali menyalahkan pihak lain. Kedua, kecenderungan umat Islam yang makin longgar dan makin tunduk pada budaya barat, sehingga nilai-nilai Islam terkubur.
“Dalam konteks inilah pentingnya pembahasan sekaligus pemahaman dan praktik moderasi Islam agar posisi umat Islam tetap berada di tengah atau moderat. Di sini peran alumni Al Azhar yang dikenal sebagai garda terdepan pemahaman soal moderasi, bisa lebih banyak menyumbangkan dharma baktinya,” kata Suryadharma Ali
Suryadharma juga menyinggung kelompok Islam liberal yang cenderung mengabaikan aturan dan hukum padahal tidak ada kebebasan yang tanpa aturan. “Saya sering disebut tokoh garis keras ketika berpendapat soal Ahmadiyah dan lain-lain. Padahal saya hanya ingin menempatkan sesuatu pada posisi yang benar,” ujarnya.
Pada forum ini Menag menginformasikan seminar internasional soal Moderasi Islam yang digagas dan diselenggarakan para alumni Al Azhar dibawah pimpinan Qurais Sihab akan berlangsung Senin di Istana Negara, Jakarta dan dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan forum ini dijadikan “Presidensial Lecture”.
Baca Juga: