Warga Praikarang Mandi Sekali Seminggu
jarang mandi, kebanyakan sekali seminggu.
Laporan Wartawan Pos Kupang, John Taena
TRIBUNNEWS.COM, WAINGAPU--Kemarau panjang dan kekeringan yang melanda Kabupaten Sumba Timur membuat sekitar 1.114 jiwa dari 229 kepala keluarga (KK) di Desa Praikarang, Kecamatan Ngaha Ori Angu, jarang mandi, kebanyakan sekali seminggu. Terbatasnya persediaan air bersih menyebabkan warga harus menghemat. Akibatnya, tak jarang warga setempat diserang penyakit kulit dan gatal-gatal.
Kepada Pos Kupang di Praikarang, Jumat (12/10/2012), Kepala Urusan (Kaur) Pemerintahan Desa setempat, Nggaba Kamangi (60), mengatakan, setiap musim kemarau warga setempat selalu dilanda kekurangan air bersih. Masalah air bersih selalu dikeluhkan oleh sekitar 1.114 jiwa dari 229 KK yang ada di desa setempat. "Setiap tahun kami selalu mengeluh kekurangan air. Kami sudah berulang kali minta bantuan pemerintah tetapi tidak ada tanggapan," keluh Kamangi.
Biasanya, diakui Kamangi, memasuki bulan Juni hampir semua sumur di sekitar perkampungan mulai kering. Untuk mendaptakan air bersih, mereka harus berjalan kaki sejauh kurang lebih lima kilometer. Selain itu, debit air pada sumber mata air yang diandalkan warga terus berkurang. Hal ini menyebabkan warga harus membagi jatah kebutuhan air bersih agar semua KK bisa mendapatkannya. "Terpaksa harus dibagi-bagi persediaan air yang ada supaya semua bisa dapat. Dan, biasanya setiap orang mendapat dua jerigen lima liter," jelasnya.
Hal senada disampaikan Kepala Desa (Kades) Praikarang, Doundu Tay (52). Dia mengatakan, biasanya memasuki musim kemarau mereka selalu diserang penyakit kulit dan gatal. Pasalnya, kekurangan stok air bersih menyebabkan warga setempat harus menghemat air yang ada. "Jadi, bisa-bisa satu minggu baru mandi satu kali. Habis mau utamakan mandi atau untuk minum," katanya.
Layanan air bersih dari pihak pemerintah, lanjutnya, untuk memenuhi kebutuhan warga setempat sangat diharapkan. Pasalnya, Air bersih dijual oleh pihak swasta sangat mahal dan tidak bisa dijangkau oleh warga. Tarif penjualan air di lokasi tersebut oleh pihak swasta berkisar yakni Rp 200 ribu hingga Rp 350 ribu/tangki. "Kalau bisa pemerintah bantu kami dengan membangun embung-embung supaya jangan susah setiap tahun seperti ini," pintanya.*
Baca Juga :
- MNI Demo Protes Kenaikan Tarif RSU Maumere 7 menit lalu
- Digigit Komodo, Ibu Tima Dirawat 16 menit lalu
- Eksavator Milyaran Rupiah Tenggelam 1 jam lalu