Senin, 27 April 2026

BEC Hadir di Banyuwangi Festival 2012

BEC mengemas budaya Banyuwangi dengan modernitas maka Festival Kuwung menyuguhkan cita rasa otentik dari budaya asli Banyuwangi

Tayang:

TRIBUNNEWS.COM,BANYUWANGI - Selama hampir dua bulan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi akan menggelar sembilan rangkaian acara yang bermuatan kultural mulai. Gawe besar Pemkab Banyuwangi untuk memeringati Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-214 itu  dikemas dalam sebuah festival bertajuk Banyuwangi Festival 2012.

Menurut Kabag Humas Protokol Pemkab Banyuwangi Djuang Pribadi, inilah pertama kalinya peringatan Harjaba dibuat sangat gemebyar dalam sebuah festival besar.

Selain dalam rangka merayakan Harjaba, festival ini lebih ditujukan sebagai ajang promosi potensi wisata Kabupaten Banyuwangi yang dimulai 15 November hingga 22 Desember 2012 ini.

“Kegiatan pertama kali yang dilangsungkan adalah Festival Anak Yatim. Mengajak para pengusaha dan para dermawan di Banyuwangi, acara pada 15 November itu melibatkan 3.000 anak yatim piatu dari tingkat SD hingga SLTA se- Kabupaten Banyuwangi pukul 15.00 di Taman Blambangan,” kata Djuang, Kamis (15/11/2012).

Acara kedua Parade Gandrung Sewu, pada 17 November mulai pukul 15.00. Seperti namanya festival ini melibatkan seribu lebih penari Gandrung dari pelajar SD-SMA, 200 di antaranya adalah penari profesional pelaku sendratari pertunjukan sejarah Gandrung.

Sebagai pertunjukan kolosal, seni pertunjukan rakyat yang diiringi 23 penabuh gamelan dan 2 orang sinden itu menceritakan sejarah gandrung dari masa ke masa selama kurang lebih 80 menit. Di mana setengah jam pertama pengunjung akan disuguhkan berbagai macam kesenian lokal Banyuwangi.

Sesi berikutnya, fragmen Gandrung yang akan dimulai dari kemunculan Gandrung hingga prosesi bagaimana seorang penari ditasbihkan menjadi Gandrung. Performance lalu diakhiri dengan tarian massal Gandrung dan ditutup dengan Seblang Subuh, sebagai bagian akhir sebuah pertunjukan Gandrung yang sarat dengan filosofi dan religius.

“Yang menarik, karena digelar di Pantai Boom, seluruh performer akan menari langsung di tepi pantai. Tidak beralaskan panggung, namun langsung menjejak pasir panta. Dari pantai yang berjarak + 2km dari dari pusat kota Banyuwangi, festival ini sekaligus akan membuat pengunjung bisa menikmati lepas Selat Bali dan melihat langsung Pulau Bali dari kejauhan,” terang budayawan DRH Budiyanto, Koordinator Gandrung Sewu.

Usai berpesta rakyat dengan Parade Grandrung Sewu, para pecinta musik khususnya jazza akan dimanjakan dalam Banyuwangi Jazz Festival (BJF) pada 17 November. Menurut Project Director ThinkThank! yang menangani BJF Kika Dhersy Putri, BJF menjadi festival jazz perdana yang digelar di Gesibu.

“Kami akan menampilkan ESQI:EF: Syaharani and Queenfireworks, Monita Tahalea and Friends, dan Rieka Roeslan-Reza (The Groove) untuk menghibur masyarakat Banyuwangi,” katanya.

Ditambahkan Koordinator BJF Nur Agus, meski digelar untuk menjajaki animo music jazz di Banyuwangi, 2.000 tiket gratis yang disebar disambut antusias masyarakat.  “Acara ini menjadi ucapan selamat datang bagi penonton Banyuwangi Festival, bersama Gandrung Seweu dan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC),” katanya.

BEC yang digelar pada 18 November  itu merupakan event budaya berupa parade berskala internasional yang kedua dalam kemeriahan Banyuwangi Festival 2012. Inilah parade fashion yang kental dengan nuansa etnik ini mengambil tema Re-Barong Osing yang didominasi warna merah, hijau dan kuning.

BEC sengaja digelar untuk menjembatani antara modernitas dengan seni budaya tradisional khas Banyuwangi agar lebih memiliki nilai jual dalam pengembangan pariwisata, seni dan budaya. Selain itu, event ini juga dimaksudkan sebagai wadah kreatifitas untuk menuangkan gagasan unik, dan wahana untuk mengapresiasi nilai budaya lokal sekaligus sarana promosi Banyuwangi ke dunia luar.

“Dijadwalkan, 200 orang peserta akan turun langsung dalam event ini, yaitu 150 orang membawakan tema Re-Barong Using, dan 50 orang peserta BEC tahun 2011 lalu. Start dari Jl Veteran (Taman Blambangan) - Jl Diponegoro - Jl Dr Sutomo- Jl A Yani dan finish di Kantor Bupati Banyuwangi pada pukul 12.30, BEC diawali dengan  parade opening defile,” kata Koordinator BEC dan Kadisbudpar Kabupaten Banyuwangi Suprayogi.

Tak pernah tidak, Pergelaran Wayang Kulit menjadi acara yang selalu digelar dalam setiap Harjaba. Kali ini bersama dalang mbeling Ki Enthus Susmono, 22 November, di Alun-Alun Kecamatan Genteng dengan lakon Pendowo Syukur. Terkenal dengan sabetannya yang khas, Ki Enthus akan membawa penonton Banyuwangi menjelajahi kejayaan masa lalu dalam balutan fragmen heroik yang penuh nilai.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved