Sinyal Buruk Matinya Ikan Raksasa
Wahidin terkejut melihat ikan besar berada di pinggir Sungai Cimanuk, Leuwi Cikakapa.
Editor:
Hendra Gunawan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Sugiri UA
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG -- Wahidin terkejut melihat ikan besar berada di pinggir Sungai Cimanuk, Leuwi Cikakapa. Walau sehari-hari menangkap ikan, namun dia tetap saja kaget dengan ukuran ikan yang dilihatnya, Selasa (5/2/2013).
Warga Kampung Copong, Kelurahan Sukamenteri, Kecamatan Garutkota, itupun langsung pulang untuk meminta bantuan teman-temannya dan berniat menangkap ikan sekarat itu. Namun ikan tak lagi di tempat semula saat mereka kembali.
Ikan dengan ukuran di atas rata-rata, sesuai dengan jenisnya, tersebut akhirnya ditemukan lagi pada Rabu (6/2/2013). Beda dengan saat pertama kali dilihat, ikan dengan panjang 1,7 meter dan berat sekitar satu kuintal tersebut sudah tak bernyawa. Lokasi penemuan ikan mati masih di tempat semula.
Ikan jenis kancra pun dievakuasi ke daratan. Karena memiliki ukuran yang tak biasa, bangkai ikan itu menarik minat warga untuk melihatnya dari dekat. Alhasil, masyarakat yang penasaran dan ingin melihat langsung, berbondong-bondong mendatangi lokasi termasuk warga yang melewati Jalan Raya Sudirman. Akibatnya, kendaraan yang diparkir di dekat jembatan membuat arus lalu lintas tersendat.
Menurut Wawan, yang juga berprofesi sebagai pencari ikan, kematian ikan di Sungai Cimanuk, sering terjadi. "Apalagi sungai ini sudah tercemar banyak limbah industri," katanya.
Barangkali, matinya ikan-ikan pada tahun-tahun sebelumnya tak terlalu menarik perhatian banyak warga karena ukurannya yang tak sebesar seperti yang ditemukan pada Rabu (6/2/2013). Maka dengan matinya ikan berbobot satu kuintal itu bisa saja dianggap sinyal terburuk kondisi sungai yang sudah tak bersih lagi. Seperti dikatakan Wawan, pencemaran barangkali menjadi sumber utama sang raksasa tak mampu bertahan hidup.
Hal itu harus menjadi perhatian. Bukan tak mungkin ikan-ikan yang ada di Sungai Cimanuk akan habis karena mati perlahan. Efeknya bukan hanya pada tidak adanya lagi ikan di sungai tersebut. Lebih dari itu, masyarakat yang biasanya menggantungkan hidup dari sungai juga kena imbas karena mata pencahariannya sudah hilang. Lebih parahnya lagi jika masyarakat menggantungkan diri pada air sungai untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.
Matinya raksasa di Sungai Cimanuk, juga harus ditanggapi dengan cara universal. Bukan tak mungkin banyak sungai lain di Jawa Barat ini yang mengalami nasib serupa meski tak ditandai dengan matinya ikan sepanjang 1,7 meter. Justru matinya ikan kecil yang baru menetas adalah ancaman yang paling menakutkan karena ikan besar sudah tak ada lagi sehingga peluang punah lebih besar.
Sungai Citarum, misalnya. Sungai yang oleh beberapa LSM dijadikan tempat berdemo tersebut merupakan contoh nyata betapa pencemaran lingkungan (sungai) menjadi musuh bersama.
Siapa yang peduli? Harusnya kita semua yang harus berpikir tentang langkah penyelamatan. Namun semua itu tak berarti apa-apa saat kebijakan pemerintah tak pernah berpihak. Berdirinya pabrik-pabrik yang kemudian membuang limbah ke sungai merupakan awal dari kerusakan sungai yang tak jarang tetap dimanfaatkan manusia untuk kelangsungan hidup.
Momen Pemilukada Jawa Barat yang masa kampanyenya dimulai Kamis (7/2) kemarin dan pencoblosan pada Minggu (24/2) bisa dijadikan masyarakat sebagai ajang melihat-lihat siapa calon pemimpin yang care dengan lingkungan. Walau bukan isu populer untuk mendapat simpatisan (voters), lingkungan merupakan masalah yang harus diperhatikan oleh lima pasangan calon yang bertarung.(*)
baca juga: