Minggu, 31 Agustus 2025

Korban Tewas Gempa Perbatasan Iran-Irak Capai 530 Orang, Bantuan Masih Belum Tersebar

Otoritas Iran sudah menaikkan lagi angka total korban tewas, yang tadinya masih berkisar di angka 400, menjadi 530.

Penulis: Ruth Vania C
New York Times/Iranian Students News Agency, via Associated Press/Pouria Pakizeh
Bangunan yang hancur akibat gempa di Kota Sarpol-e-Zahab, Provinsi Kermanshah, yang berjarak 16 kilometer dari perbatasan Irak. 

TRIBUNNEWS.COM, TEHERAN - Masih banyak korban selamat gempa di perbatasan Iran-Irak yang belum menerima bantuan, dimana korban tewas mencapai lebih dari 500 orang, Selasa (14/11/2017).

Gempa berkekuatan 7,3 skala Richter mengguncang daerah perbatasan Iran-Irak, Minggu (12/11/2017) pukul 21.18 waktu setempat, menurut Badan Survei Geologi AS (USGS).

Titik gempa dikatakan berpusat di daerah pegunungan terpencil di Irak, sekitar 200 kilometer sebelah barat laut Baghdad dan 400 kilometer sebelah barat Tehran.

Provinsi Kermanshah menjadi daerah yang paling terdampak parah gempa.

Baca: Terima Laporan PKPI, Bawaslu Perintahkan KPU Periksa Dokumen Secara Fisik

Otoritas Iran sudah menaikkan lagi angka total korban tewas, yang tadinya masih berkisar di angka 400, menjadi 530.

Hal itu disampaikan oleh seorang pejabat pemerintah Kermanshah, Mohammad Ali Monshizadeh.

"Sejauh ini, kami sudah mengeluarkan 430 sertifikat kematian. Namun, ada sekitar 100-150 orang lainnya yang sudah dikuburkan tanpa izin," jelas Monshizadeh.

"Ini artinya jumlah korban tewas secara keseluruhan menjadi antara 530-580 orang di Kermanshah," lanjutnya.

Sedangkan, korban cedera disebutkan berjumlah 7.460 orang.

Baca: KPK Periksa Petinggi Pengembang Reklamasi Teluk Jakarta

Gempa dikatakan menyerang tujuh kota besar dan 1.950 desa di Provinsi Kermanshah, yang mengakibatkan 12 ribu rumah hancur seluruhnya dan 15 ribu lainnya mengalami kerusakan.

Di kota yang paling terdampak parah gempa dan berjarak 16 kilometer dari perbatasan Iran-Irak, Sarpol-e-Zahab, lebih dari 316 orang tewas.

Banyaknya rumah warga yang hancur membuat banyak korban selamat kini terlantar dan terpaksa tidur di tempat terbuka, tanpa pasokan listrik dan air.

"Anda dapat mendengar anak-anak menangis, sebab di sini sangat dingin. Mereka hanya bisa didekap oleh orangtua mereka untuk bisa tetap hangat," cerita seorang korban selamat, Ali Gulani (42).

Halaman
12
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan