Korban Tewas Gempa Perbatasan Iran-Irak Capai 530 Orang, Bantuan Masih Belum Tersebar
Otoritas Iran sudah menaikkan lagi angka total korban tewas, yang tadinya masih berkisar di angka 400, menjadi 530.
Penulis:
Ruth Vania C
Editor:
Ferdinand Waskita
TRIBUNNEWS.COM, TEHERAN - Masih banyak korban selamat gempa di perbatasan Iran-Irak yang belum menerima bantuan, dimana korban tewas mencapai lebih dari 500 orang, Selasa (14/11/2017).
Gempa berkekuatan 7,3 skala Richter mengguncang daerah perbatasan Iran-Irak, Minggu (12/11/2017) pukul 21.18 waktu setempat, menurut Badan Survei Geologi AS (USGS).
Titik gempa dikatakan berpusat di daerah pegunungan terpencil di Irak, sekitar 200 kilometer sebelah barat laut Baghdad dan 400 kilometer sebelah barat Tehran.
Provinsi Kermanshah menjadi daerah yang paling terdampak parah gempa.
Baca: Terima Laporan PKPI, Bawaslu Perintahkan KPU Periksa Dokumen Secara Fisik
Otoritas Iran sudah menaikkan lagi angka total korban tewas, yang tadinya masih berkisar di angka 400, menjadi 530.
Hal itu disampaikan oleh seorang pejabat pemerintah Kermanshah, Mohammad Ali Monshizadeh.
"Sejauh ini, kami sudah mengeluarkan 430 sertifikat kematian. Namun, ada sekitar 100-150 orang lainnya yang sudah dikuburkan tanpa izin," jelas Monshizadeh.
"Ini artinya jumlah korban tewas secara keseluruhan menjadi antara 530-580 orang di Kermanshah," lanjutnya.
Sedangkan, korban cedera disebutkan berjumlah 7.460 orang.
Baca: KPK Periksa Petinggi Pengembang Reklamasi Teluk Jakarta
Gempa dikatakan menyerang tujuh kota besar dan 1.950 desa di Provinsi Kermanshah, yang mengakibatkan 12 ribu rumah hancur seluruhnya dan 15 ribu lainnya mengalami kerusakan.
Di kota yang paling terdampak parah gempa dan berjarak 16 kilometer dari perbatasan Iran-Irak, Sarpol-e-Zahab, lebih dari 316 orang tewas.
Banyaknya rumah warga yang hancur membuat banyak korban selamat kini terlantar dan terpaksa tidur di tempat terbuka, tanpa pasokan listrik dan air.
"Anda dapat mendengar anak-anak menangis, sebab di sini sangat dingin. Mereka hanya bisa didekap oleh orangtua mereka untuk bisa tetap hangat," cerita seorang korban selamat, Ali Gulani (42).