Profesor Jepang: Tenaga Panas Tak Terpakai Sebagai Sumber Energi Akan Semakin Banyak Digunakan

Sedangkan energi panas yang tak terpakai hasil penelitian akan semakin banyak terpakai di tahun 2020

Profesor Jepang: Tenaga Panas Tak Terpakai Sebagai Sumber Energi Akan Semakin Banyak Digunakan
Richard Susilo
Prof. Dr. Tsutomu Iida (51) pengajar di Universitas Sains Tokyo 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Penggunaan energi jauh semakin banyak di dunia saat ini. Namun energi dari kayu, batu bara, minyak gas semakin berkurang. Di lain pihak penggunaan energi terbarukan mulai muncul tahun 1970-an dan kini jauh semakin banyak di berbagai negara.

"Sedangkan energi panas yang tak terpakai hasil penelitian akan semakin banyak terpakai di tahun 2020 mendatang, mendaurulangkan panas terbuang pada awalnya, akhirnya menjadi energi yang bisa dipakai kembali," papar Prof. Dr. Tsutomu Iida (51) pengajar di Universitas Sains Tokyo khusus kepada Tribunnews.com Rabu ini (28/3/2018).

Penggunaan panas terbuang yang kemudian didaurulang dan terpakai menjadi energi akan terlihat jelas dari penelitiannya pada kendaraan bermotor (mobil).

Iida menjelaskan bahwa mobil yang menggunakan bensin pada mesin combustion akan terbuang panas sekitar 30-40%.

"Dari panas yang terbuang tersebut dengan konversi, mengubah thermal to electric akhirnya tercipta tenaga sekitar 200-1000 watt yang bisa dipakai untuk mengisi baterai mobil."

Sistim penggunaan panas terbuang yang beralih menjadi energi menurutnya sudah mulai dipakai pada mobil BMW terbaru saat ini yaitu BMWX6.

Daur ulang energi tersebut biasa disebut dengan nama Electric Vehicle Extended Range (EREV).

"Namun kini penelitian saya juga melengkapi EREV dengan thermoelectrics untuk generator sehingga panas yang semula terbuang itu bisa di alihkan menjadi energi untuk mengisi kembali dan membangkitkan bateri yang ada lebih lanjut.

Dengan demikian selain energi terbarukan yang ada, penggunaan energi dengan memanfaatkan panas yang terbuang akan melesat tinggi di tahun 2060 mendatang, di manfaatkan oleh berbagai industri lebih lanjut, tambahnya lagi.

"Dengan demikian mesin mobil saat ini yang umumnya menggunakan internal combustion engine akan semakin jauh berkurang dan perlahan berganti pula dengan EREV serta juga bersama-sama dengan penggunaan mesin dengan Hybrid menjadi PHEV atau HV," tekannya lagi.

Teknologi pemanfaatan dan daur ulang panas yang terbuang itu pulalah yang akan semakin banyak dipakai untuk teknologi luar angkasa karena dibandingkan penggunaan panel sinar matahari pada satelit tampaknya akan kurang efektif dibandingkan penggunaan tenaga listrik dari pemanfaatan panas terbuang tersebut seperti yang telah dipakai pada satelit Cassini, tambahnya lagi.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help