Kanker Payudara Lebih Mudah Diobati Jika Ada Deteksi Dini

"Banyak di antara mereka tidak tahu pengobatannya. Bahkan tertunda hingga tidak terselamatkan karena tidak menemukan metode pengobatan yang sesuai"

Kanker Payudara Lebih Mudah Diobati Jika Ada Deteksi Dini
HANDOUT
Seminar kanker 'ASEAN Summit Forum on International Minimally Invasive New Technology Therapy for Tumor Treatment' di Jakarta, pekan lalu. Seminar ini digagas oleh St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyakit kanker terbukti sejak lama lama menjadi pembunuh utama manusia. Insiden penyakit kanker payudara yang membawa kematian bagi pengidapnya terus meningkat setiap tahun.

Penyakit ini menyerang semua kalangan, termasuk artis.

Profesor Liu Lvguang dari Chinese Elderly Cancer Association (CECA) mengatakan, munculnya kematian akibat serangan kanker payudara terjadi karena tingkat deteksi dini yang masih rendah di masyaarakat.

"Masih banyak wanita yang memiliki tingkat  kesadaran terhadap penyakit dan pemeriksaan payudara yang rendah," kata Liu Lvguang saat menjadi pembicara 'ASEAN Summit Forum on International Minimally Invasive New Technology Therapy for Tumor Treatment' di Hotel Borobudur Jakarta, pekan lalu.

Liu Lvguang memaparkan, banyak orang menderita kanker, tapi tidak tahu bagaimana mencari solusi pengobatannya.  Sementara, saat ini sudah ada teknologi minimal invasif yang bisa memberi harapan baru bagi para penyindap kanker.

"Banyak di antara mereka tidak tahu pengobatannya. Bahkan tertunda hingga tidak terselamatkan karena tidak menemukan metode pengobatan yang sesuai," kata Liu Lvguang.

Profesor Liu Lvguang, selaku Chinese Elderly Cancer Association (CECA) di acara seminar kanker 'ASEAN Summit Forum on International Minimally Invasive New Technology Therapy for Tumor Treatment' di Jakarta, pekan lalu.
Profesor Liu Lvguang, selaku Chinese Elderly Cancer Association (CECA) di acara seminar kanker 'ASEAN Summit Forum on International Minimally Invasive New Technology Therapy for Tumor Treatment' di Jakarta, pekan lalu. (HANDOUT)

Liu selama ini dikenal sebagai salah satu pendiri tim MDT, International Technical Exchange Director St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou, di China.

Liu Lvguang dan sejumlah ahli lainnya selama ini  berusaha mengimbau agar masyarakat makin peduli pada kampanye kesehatan pada wanita, terutama upaya pencegahan dini penyakit ini.

"Melalui acara seperti ini kita diharapkan dapat menyebarkan pengetahuan tentang pencegahan dan pengobatan kanker, menyebarkan teknologi baru pengobatan kanker, sehingga akan semakin banyak orang yang mengenal kanker dan menemukan harapan pengobatan," katanya.

Seminar 'ASEAN Summit Forum on International Minimally Invasive New Technology Therapy for Tumor Treatment' digagas oleh St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou.

Di acara ini juga dihadirkan sejumlah cancer survivor asal Indonesia yang berbagi kisah dan pengalaman berharga mereka dalam berjuang melawan kanker.

"Mereka secara aktif menjalani pengobatan ilmiah dan efektif, sekaligus menjaga sikap percaya diri dan optimis, dan akhirnya menang melawan penyakit ini, mewujudkan kehidupan baru," kata Wu Jin Guo, General Manager St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou di Jakarta.

St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou selama ini dikenal aktif memperkenalkan teknologi baru pengobatan kanker internasional dan berpengalaman dalam penerapan teknologi pengobatan Minimal Invasif.

St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou saat ini memiliki 10 teknologi terbaru minimal invasif, seperti Intervensi, Cryosurgery, 3D Printed Template Assisted Seed Implantation dan metode lainnya.

"Metode-metode ini Gabungan Pengobatan Timur-Barat minimal invasif dan dapat mendatangkan harapan baru bagi pasien kanker," ungkap Liu Lvguang.

Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help