Nina, Penderita Thalasemia Bertahan Hidup dengan Transfusi Darah dan Usaha Katering

Sejauh ini, obat-obat yang menopang penderita thalasemia bertahan hidup, masih bisa di-cover oleh asuransi kesehatan di BPJS Kesehatan.

Nina, Penderita Thalasemia Bertahan Hidup dengan Transfusi Darah dan Usaha Katering
IST
Anak-anak penyandang thalasemia di acara CSR 'Fun Day With Daihatsu, Bahagia, Ceria Sahabat Thalasemi Bersama DKeceriaan aihatsu' yang digelar Daihatsu Cabang Jayakarta bersama Yayasan Thalasemi Indonesia di Ocean Dream, Ancol, Jakarta, Rabu (10/10/2018). (IST) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyakit thalasemia kini menjadi ancaman baru bagi dunia kesehatan di Indonesia. Karakter penyakit ini yang diturunkan secara genetik dari orangtua yang menjadi carrier (pembawa) penyakit thalasemia, serta sulitnya penyakit ini dideteksi jika tanpa melalui proses screening yang melibatkan dokter, membuat penyakit ini mudah berbiak.

Selain itu, ketiadaan obat yang benar-benar bisa membunuh penyakit ini sampai sekarang membuat thalasemia seperti momok menakutkan: selalu hinggap di tubuh penderitanya dan dibawa sampai meninggal dunia.

Thalasemia adalah penyakit yang tidak menular

Ruswandi dari Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassaemia Indonesia (POPTI) mengatakan, thalasaemia adalah penyakit kelainan darah bisa mengenai penderitanya sejak masa kanak-kanak.

"Ini bukan jenis penyakit menular, tapi muncul karena faktor keturunan. Bukan pula penyakit kanker darah. Penyakit ini diturunkan oleh kedua orangtuanya (faktor genetik) kepada anak. Meski bukan penyakit menular, thalasemia dapat dicegah," kata Ruswandi.

Baca: Kento Momota Diduga Habiskan Malam dengan Yuki Fukushima, Terkuak Saat JADA Sidak Asrama

Mereka yang positif menderita thalasemia seumur hidupnya akan amat bergantung pada transfusi darah secara berkala. Ini karena produksi sel darah merahnya di tubuh terganggu, kalah oleh pertumbuhan sel darah putih.

Pada manusia normal produksi sel datah merah terjadi setiap 100 hari sekali. "Karena 100 hari sekali sel darah merah kita pecah," jelas Russwandi.

Pada anak penderita thalasaemia mayor, produksi sel darah merah tidak berlangsung dengan baik, karena sel darah merah yang dihasilkan menurut kaca mata kedokteran, pecah sebelum waktunya.

Penyandang thalasemia peserta kegiatan CSR 'Fun Day With Daihatsu, Bahagia, Ceria Sahabat Thalasemi Bersama Daihatsu' menyaksikan atraksi drama di wahana Scorpion Pirates di Ocean Dream, Ancol, Jakarta, Rabu (10/10/2018). (IST)
Penyandang thalasemia peserta kegiatan CSR 'Fun Day With Daihatsu, Bahagia, Ceria Sahabat Thalasemi Bersama Daihatsu' menyaksikan atraksi drama di wahana Scorpion Pirates di Ocean Dream, Ancol, Jakarta, Rabu (10/10/2018). (IST) (IST)

Di masa lalu, karena masih terbatasnya pengetahuan masyarakat dan terbatasnya akses terhadap obat-obatan untuk menjaga agar tetap bertahan hidup, usia penderita thalasemia di Indonesia biasanya tidak lebih dari 20 tahun.

Kini mereka bisa menjangkau usia yang lebih panjang berkat berkembangnya temuan obat-obatan di dunia medis.

Baca: 10 Kecamatan di Bandung Berpotensi Ambles, Waspada Gempa Disusul Tanah Bergerak

Halaman
1234
Penulis: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help