Kasus Damkar

Mantan Mendagri Hari Sabarno Divonis Penjara 2 Tahun 6 Bulan

Majelis hakim menjatuhkan hukuman pidana 2 tahun dan 6 bulan penjara kepada mantan Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno, Kamis

Mantan Mendagri Hari Sabarno Divonis Penjara 2 Tahun 6 Bulan
TRIBUNNEWS.COM/DANY PERMANA
Mantan Menteri Dalam Negeri, Hari Sabarno, menunggu jemputan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (29/12/2011). Hari ini sidang vonis terdakwa korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran tersebut, ditunda karena Majelis Hakim belum siap untuk mengambil keputusan. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)


Laporan wartawan Tribunnews.com, Abdul Qodir
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Majelis hakim menjatuhkan hukuman pidana 2 tahun dan 6 bulan penjara kepada terdakwa kasus korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran (damkar), mantan Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, pada Kamis (5/1/2012).

Ia dinyatakan terbukti bersalah melakukan pidana korupsi dengan penunjukan langsung PT Satal Nusantara dan PT Istana Saranaraya, milik Hengky Samuel Daud (almarhum), sebagai perusahaan yang ditunjuk dalam pengadaan 208 mobil damkar di 22 wilayah seluruh Indonesia pada 2003 hingga 2005. Perbuatan Hari Sabarno selaku Mendagri dan Oentarto Sindung Mawardi selaku Dirjen Otonomi Daerah (Otda) saat itu menyebabkan kerugian negara sekitar Rp 97,2 miliar.

Hari Sabarno juga divonis untuk membayar denda Rp 150 juta subsider 3 bulan kurungan. "Dengan pidana selama 2 tahun dan 6 bulan penjara," kata hakim ketua Suhartoyo, saat membacakan amar putusan.

Penunjukan langsung melalui surat radiogram Hari Sabarno kepada perusahaan Hengky Samuel Daud dengan pengadaan 200 unit mobil pemadam kebakaran merk Tohatsu type V 80 ASM mengakibatkan kerugian negara Rp 86,7 miliar, karena adanya perbedaan dengan harga normal. Selain itu, Hari Sabarno dengan memerintahkan pembebasan biaya masuk 8 unit mobil damkar merk Morita, juga mengakibatkan kerugian Rp 10,9 miliar. Maka, total kerugian negara akibat perbuatan Hari Sabarno bersama sebesar 97,26 miliar.

Selain itu, Hari Sabarno juga dinyatakan mnerima uang Rp 200 juta dari Hengky, mendapat Rp 396 juta dari istri Hengky (Chenny Kolondam), yang digunakan untuk membeli furniture dan interior rumahnya di Gunung Putri Bogor Jawa Barat, melalui rekening Maria di BCA menerima tranfer uang dari istri Hengky sebesar Rp 99 juta, dan dibelikan mobil Volvo seharga Rp 808 juta oleh istri Hengky. Menurut majelis hakim, Hari Sabarno tak bisa membuktikan asal-muasal pemberian tersebut.

Atas perbuatannya, Hari Sabarno dinyatakan terbukti melanggar Pasal 3 Undang-undang Pemberantasan Korupsi, juncto Pasal 56 ayat 2 KUH-Pidana.

Putusan yang disampaikan majelis hakim ini lebih rendah dari tuntutan jaksa sebelumnya, yakni 5 tahun penjara. Hal-hal yang memberatkan putusan ini adalah perbuatan Hari Sabarno tidak mendukung pemberantasan korupsi dan telah merugikan keuangan negara. Sementara hal yang meringankan adalah ia belum pernah dihukum, mempunyai jasa pengabdian kepada negara dan berperlaku sopan selama persidangan.

Mendengar putusan tersebut, Hari Sabarno yang mengenakan kemeja batik cokelat tampak duduk tenang di kursi terdakwa. Namun, tidak demikian dengan putra, putri dan seorang menantunya, artis Virnie Ismail, yang duduk di bangku pengunjung. Mereka tampak menangis dan saling menguatkan.

Atas putusan majelis hakim itu, Hari Sabarno menyatakan banding. "Kami menyatakan langsung banding," kata kuasa hukum Hari Sabarno, Eko Prananto.

Secara tersirat, Hari Sabarno menyampaikan kekecewaannya perihal vonis yang dijatuhkan hakim kepadanya. Di antaranya, dikarenakan dirinya tak merasa memerintahkan Oentarto terkait penunjukan perusahaan Hengky dan jaksa tidak pernah menghadirkan saksi yang meringankan seperti istri Hengky.

"Kebenaran murni yang meringankan tak disinggung. Memo dinas yang dibuat Oentarto palsu. Di persidangan terungkap tak ada yang Pak Harry disejutujui," kata Sabarno.

Penulis: Abdul Qodir
Editor: Gusti Sawabi
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved