• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 25 Oktober 2014
Tribunnews.com

Menjajak Sejarah di Pusdik Brimob Watukosek

Jumat, 12 April 2013 10:16 WIB
Menjajak Sejarah di Pusdik Brimob Watukosek
net

Laporan wartawan tribunnews.com : Adi Suhendi

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA- Pusat Pendidikan (Pusdik) Brigade Mobil (Brimob) Mabes Polri di Watukosek, Pasuruan, Jawa Timur ternyata memiliki sejarah panjang di area 140 hektar tersebut terdapat beberapa situs bersejarah peninggalan raja Airlangga.

Sekitar pukul 14.00 WIB, Kamis (11/4/2013) rombongan wartawan yang biasa meliput di Mabes Polri datang ke Pusdik Brimob. Bus pun masuk dan menyusuri jalan sekitar kurang lebih dua kilometer untuk sampai ke Gedung Utama Pusdik Brimob tempat Kapusdik berkantor.

Cuaca sudah mulai mendung, saat turun dari bus wartawan langsung terpaku dengan patung Gajah Mada yang berada tepat di kantor Kapusdik. Rombongan pun disambut para pejabat Pusdik dan tidak lama kemudian diceritakan lah sejarah berdirinya Pusdik tersebut.

Kepala Pusdik Brimob Kombes Pol Handono menjelaskan bahwa nama Watukosek berasal dari dua kata yaitu Watu yang artinya batu dan kosek yang artinya asahan sehingga bisa dikatakan tempat tersebut merupakan tempat mengasah diri.

Lokasi Pusdik sendiri tepat di lereng Gunung Penanggungan yang memiliki sejarah panjang, berdasarkan prasati Cunggrang yang terletak di Desa Bulusari yang menceritakan tentang Raja Airlangga menjelaskan bahwa Gunung Penanggungan sejak jaman dahulu merupakan tempat yang disakralkan dan dikeramatkan. Gunung Penanggungan merupakan tempat pelarian danpertapaan untuk membersihkan diri Raja Airlangga.

Sebagai buktinya di wilayah tersebut terdapat patirtan suci atau sumber tetek yang dibangun Raja Airlangga. "Dari Sumber Tetek tersebut mengeluarkan air," ujarnya saat ditemui wartawan, Kamis (11/4/2013).

Lokasi tersebut sering didatangi banyak orang untuk melakukan ritual, karena lokasi itu terdapat bangunan-bangunan penting diantaranya prasada silunglung (altar pemujaan), patapan (tempat bertapa) dan tirtha pancuran.

"Bila malam Jumat Legi banyak orang yang datang ke tempat tersebut," kata Handono.

Nilai historis tersebut menjadi ruh tersendiri bagi Pusdik Brimob Watukosek. Karena bagaimana pun situs yang berada di Watukosek memiliki nilai sejarah, khususnya nilai-nilai yang sangat tinggi dalam hubungannya dengan perjuangan Bangsa Indonesia, baik dalam mewujudkan integrasi bangsa, pensucian diri, dan proses regenerasi melalui pendidikan.

"Brimob seluruh Indonesia dilahirkan di sini, secara historis tidak hanya dibentuk pada tahun 1954, tapi berdasarkan situs-situs kerjaan kahuripan raja Erlangga tempat ini memang sudah dijadikan sebagai tempat untuk proses pembelajaran," terangnya saat berbicang dengan wartawan.

Bangunan-bangunan di Pusdik Watukosek terbilang sudah tua. Bangunan paling muda di Pusdik tersebut dibangun tahun 1999 dan yang paling tua tahun 1954.

"Kami tetap lestarikan komdisi yang ada untuk dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan di Watukosek," ujarnya.

Biasanya Gunung Pananggungan sering digunakan untuk pendidikan para calon Brimob, pendidikan survival, navigasi, dan kegiatan lapangan lainnya biasanya dilakukan di wilayah pegunungan tersebut. Terlihat juga fasilitas-fasilitas lainnya seperti tempat halang rintang dan pelatihan menembak. Banyak orang yang mengatakan bahkan perwira-perwira yang kini sudah lulus dari Watukosek mengatakan bahwa tempat tersebut cukup angker.

Penulis: Adi Suhendi
Editor: Gusti Sawabi
2 KOMENTAR
1660371 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
  • aprilia kartika-Rabu, 29 Januari 2014 Laporkan
    Saya bangga sebagai penduduk asli watukosek
  • Geni Idhu-Jumat, 12 April 2013 Laporkan
    IYYYAAA....MEMANG BENAR CUKUP ANGKER SAYA ALAMI SENDIRI WAKTU ALMARHUM PAKLIK SAYA TUGAS DISANA...MUNGKIN KARENA KEANGKERAN TSB MEMANG "DIJAGA" dan "DIPELIHARA" OLEH MASYARAKAT YG MENGGEMARI RITUAL-RITUAL GAIB,"NGLAKONI" DSB.
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas