Dua Arsitek Perempuan Asal Indonesia Mengukir Prestasi di Adelaide
Minggu ini, dua perempuan asal Indonesia akan bertemu dalam wisuda di Universitas Adelaide, Australia. Keduanya menemuki bidang arsitektur,…
Minggu ini, dua perempuan asal Indonesia akan bertemu dalam wisuda di Universitas Adelaide, Australia. Keduanya menemuki bidang arsitektur, satunya profesor dan yang lainnya doktor yang baru lulus. Sebuah pencapaian membanggakan, tapi menurut mereka, kiprah perempuan di bidang arsitektur masih kurang terdengar.
Setelah empat tahun, Cynthia Erlita Wuisang merampungkan studi S3 atau PhD nya di University of Adelaide, Australia Selatan. Upacara yang akan berlangsung tanggal 18 September 2014 nanti menjadi ajang perayaan dan peresmiannya.
Perempuan yang di Indonesia bekerja sebagai arsitek dan dosen di Universitas Sam Ratulangi, Manado, tersebut akan dibacakan namanya oleh Veronica Soebarto, profesor dan ketua sementara fakultas arsitektur University of Adelaide.
Selain sebagai pembaca nama, Veronica juga berperan sebagai pembimbing Cynthia dalam proses penyelesaian thesisnya, yang membahas pentingnya peran lansekap kebudayaan, atau cultural landscape, dalam proses pembangunan suatu wilayah.
Sepak terjang Cynthia dalam menyelesaikan thesisnya perlu diacungi jempol, ujar Veronica, yang dulu pernah menimba ilmu di Universitas Indonesia dan juga di Texas A&M University, Amerika Serikat.

Cynthia Wuisang bekerja sebagai dosen tetapi juga masih berpraktek sebagai arsitek. (Foto: Cynthia Wuisang)
“Apa yang [Cynthia] lakukan di lapangan, di Minahasa, luar biasa,” ucapnya.
Penelitian Cynthia berusaha menggali kembali karakter budaya lokal masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara.
Tak kurang dari 300 responden dari 14 desa Ia wawancara demi mencari tahu tentang cara berfikir masyarakat setempat, terkait lingkungan, kepercayaan, dan budaya.
Menurut Veronica, pengetahuan ini seharusnya digunakan dalam proses pembangunan suatu wilayah.
“Dalam membangun dan menangani wilayah, Minahasa perlu mempertimbangkan aspek-aspek penting ini,” ucapnya, “Saat ini, proses pembangunan tidak mempertimbangkan hal ini, melainkan sekadar membangun hal-hal baru, tanpa menghargai budaya setempat.”
Veronica menjelaskan lebih lanjut bahwa Cynthia berhasil mendapatkan informasi mendalam tentang kepercayaan masyarakat setempat yang terkait berbagai hal, mulai dari alam, tarian, hingga peralatan yang digunakan sehari-hari.
“Semua ini bagian dari keseharian mereka, dan cara mereka mengatur kehidupan bermasyarakat, bermukim, mengolah lahan, semuanya berkaitan satu sama lain,” ucapnya, “Kalau semua ini tidak dipertimbangkan, masyarakat setempat tak akan puas dengan pembangunan.”
Cynthia sendiri berharap hasil penelitiannya bisa dijadikan masukan bagi pemerintah setempat atau pihak developer yang akan membangun di Minahasa.
“Saya ingin sekali setelah balik dari sini memberi kontirbusi bagaimana membangun dari bawah. Selama ini yang ada top down,” ucapnya,