Dua Arsitek Perempuan Asal Indonesia Mengukir Prestasi di Adelaide
Minggu ini, dua perempuan asal Indonesia akan bertemu dalam wisuda di Universitas Adelaide, Australia. Keduanya menemuki bidang arsitektur,…
“Belum ada perhatian pemerintah untuk mengakomodir apa yang ada di masyarakat baik secara sosial budaya, ekonomi, yang ada di tiap-tiap desa. “
Sebelum mengejar gelar S3, Cynthia juga merampungkan S2-nya di universitas yang sama, yaitu University of Adelaide.
Tak hanya mendapat ilmu, Ia juga belajar banyak dari mengamati manajemen kota Adelaide di Australia Selatan, tempat universitas itu terletak, dan membandingkannya dengan Indonesia, terutama kota Manado.
“Mungkin Manado bisa seindah kota Adelaide. Manajemennya bagus sekali,” ucap Cynthia,
“Saya ingin berkontribusi ke pemerintah daerah untuk memberikan masukan-masukan bagaimana pemerintah Adelaide mengelola dengan baik.”
Sulitnya Perempuan Berprestasi di Dunia Arsitektur
Baik Cynthia maupun Veronica mengakui bahwa kaum perempuan masih kurang terdengar gaungnya di dunia arsitektur.
Ini bahkan tidak hanya berlaku di Indonesia, melainkan di Australia dan berbagai negara lain juga, ucap mereka.

Veronica Soebarto tinggal di Australia sejak tahun 1998. Bidang Ia pakari antara lain arsitektur ramah lingkungan. (Foto: Veronica Soebarto)
Menurut Veronica, jumlah perempuan yang mempelajari arsitektur di sebuah fakultas atau jurusan bisa saja setara dengan laki-laki, namun giliran terjun ke dunia kerja, biasanya arsitek laki-laki lebih mudah maju dan dikenal.
Ada beberapa sebab yang mungkin melatarbelakangi ini, misalnya karena seorang arsitek seringkali harus bergadang dan bekerja semalaman, dan ini cenderung dihindari perempuan yang sudah berkeluarga.
Selain itu, lingkungan kerjanya pun terkadang keras dan tidak ramah perempuan.
“Anda harus pergi ke lokasi pembangunan dan mengawasi. Saya ingat waktu saya masih berusia 23 atau 24 tahun. Saya harus pergi ke rapat di lokasi proyek, dan disiuli para pekerja,” cerita Veronica,
“Kemudian saya harus memimpin rapat dengan sejumlah kontraktor, dan mereka melihat dengan pandangan seolah berkata ‘siapa kamu? Kami lebih tahu dari kamu.’”
Hal serupa diungkapkan Cynthia. Menurutnya, banyak mahasiswanya yang setelah lulus dari jurusan arsitektur malah bekerja di bidang yang tak ada hubungannya dengan ilmu tersebut, seperti bekerja di bank atau menjadi pegawai negeri.
“Saya ingin nanti sekembalinya saya di sini, saya mengajar, saya ingin memberikan dorongan terutama untuk arsitek perempuan untuk lebih mengembangkan diri,” ujarnya.