Sabtu, 11 April 2026
ABC World

Pengalaman Bekerja di Bogor Antarkan Aktivis Muda Australia Ini Ke Paris

Berbekal gelar jurusan Neurosains dan Farmakologi, Michelle Kovacevic justru aktif berkecimpung di bidang lingkungan. Pengalamannya…

Pada pekan pertama bulan Desember 2015, ia-pun terbang ke konferensi iklim di Paris, menjembatani para aktivis lingkungan dari berbagai usia.

"Salah satu tujuan kami adalah untuk mendorong para peserta konferensi agar bertindak proaktif dan melibatkan profesional muda. Kami bekerja erat dengan Global Landscapes Forum (GLF) untuk melakukan program pendampingan di mana kami memasangkan delegasi senior GLF dengan delegasi muda dan mendorong mereka untuk menghadiri sesi diskusi bersama-sama, membentuk jaringan yang tak lekang waktu," kemukanya.

Kiri: Michelle bersama rekannya di CIFOR Bogor, Budhy Kristanty. Kanan: Michelle di dalam sebuah hutan di Bogor. (Foto: Michelle Kovacevic)
Kiri: Michelle bersama rekannya di CIFOR Bogor, Budhy Kristanty. Kanan: Michelle di dalam sebuah hutan di Bogor. (Foto: Michelle Kovacevic)

Michelle mengaku, tanpa pengalaman bekerja-nya di Bogor, ia tak akan mampu meraih pencapaian tersebut.

"Bogor adalah tenpat di mana saya memulai karir dan saya sangat bersyukur atas kesempatan yang diberikan, saya tak pernah menyangka jalan karir saya akan seperti ini!."

Ia lantas mengimbuhkan, peluang dan tanggung jawab yang ia dapat selama bekerja di Indonesia belum tentu ia dapatkan sebagai profesional muda di Australia.

"Saat itu, tingkat pengangguran di Australia tengah melonjak. Berkaca dari pengalaman, saya sangat menganjurkan siapa saja untuk mencari peluang karir di luar negara asal anda," sebutnya.

Kerjasama Indonesia-Australia dalam mengatasi perubahan iklim

Sebagai aktivis muda Australia, Michelle berpendapat bahwa kedua negara perlu memperitmbangkan peran penting dari populasi adat dalam mengelola tanah - dan bagaimana masyarakat kedua negara telah menanggung dampak perubahan iklim.

"Dampak perubahan iklim terhadap Indonesia dan Australia akan berbentuk serupa. Kedua negara sangat kaya dalam sumber daya alam yang eksplorasinya menyebabkan perubahan iklim. Nah, agrikultur adalah sektor penting bagi pendapatan keduanya yang akan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi cuaca dan curah hujan, yang sudah ditimbulkan perubahan iklim," urai perempuan yang mahir berbahasa Indonesia ini. Karena itu, menurut Michelle, kerjasama dalam hal ini sangatlah dibutuhkan.

Akibat isu tersebut, ia sendiri telah melihat adanya peluang kemitraan di antara kedua negara dalam beberapa sektor. Misalnya, pada sektor energi, di mana Pemerintah Indonesia berjuang keras untuk mencapai target pemenuhan listrik 90% pada tahun 2020.

"Dengan kondisi seperti itu, pertumbuhan pembangkit listrik di Indonesia harus tumbuh 9% per tahun. Di situlah muncul peluang nyata untuk memastikan bahwa pertumbuhan listrik itu berkelanjutan dan bersih. Dan saya sungguh tak sabar untuk melihat ilmuwan dari kedua negara berkolaborasi untuk mencapai target tersebut," utaranya

Baginya, untuk menangkal isu lingkungan, tak hanya kerjasama antar pemerintah yang dibutuhkan. Kerjasama antar warga dan pelaku bisnis juga sangat diperlukan.

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved