Senin, 13 April 2026
ABC World

Skandal Seks Gereja Katolik Masih Akan Terjadi di Berbagai Negara

Skandal pelecehan seksual terburuk di lingkungan Gereja Katolik barangkali telah usai di Australia. Namun krisis tersebut kemungkinan…

Skandal pelecehan seksual terburuk di lingkungan Gereja Katolik barangkali telah usai di Australia. Namun krisis tersebut kemungkinan akan menimpa gereja-gereja di Asia, Afrika dan sebagian Eropa dalam satu dekade mendatang.

Demikian terungkap dalam laporan bertajuk Child Sexual Abuse in the Catholic Church yang dibuat universitas RMIT Australia. Ini merupakan laporan pertama yang merangkum temuan dari 26 komisi khusus, penyelidikan polisi, pemeriksaan peradilan, penyelidikan pemerintah, penelitian gereja, dan penelitian akademis dari seluruh dunia sejak tahun 1985.

Laporan ini memperingatkan potensi terburuk pelecehan anak-anak dan remaja yang hidup dalam 9.600 panti asuhan yang dikelola gereja, termasuk 2.600 di India dan 1.600 di Italia.

"Pelecehan seksual terhadap anak-anak telah mencapai puncaknya dan telah mengalami penurunan sejak akhir 70-an dan awal 80-an. Dan hal itu disebabkan karena diungkap ke arena publik," kata Profesor Des Cahill, salah satu penulis laporan itu.

"Tapi saya pikir di negara-negara berkembang dan di beberapa negara Eropa, belum ada peristiwa yang akan mengangkat isu ini ke ruang publik. Saya terutama berpikir tentang negara di Asia dan Afrika," katanya.

"Mungkin bisa muncul sendiri, setelah semua ini terbongkar, dan kembali ke masa 30, 40 tahun... jika persoalan mendasarnya tidak ditangani," paparnya.

"Saya belum melihat isyarat apapun di tingkat Vatikan, bahkan di sini di Australia, bagi para uskup untuk menjawab mengapa hal ini terjadi dan mengapa mereka - para uskup - bereaksi dengan sangat buruk," jelasnya.

Baca Juga:

Korban Minta Plakat Pelaku Pelecehan Seksual Dicabut dari Katedral Santa Maria

Gereja Katolik Bayar $276 Juta Terkait Pelecehan Seksual Anak-anak di Australia

Dengan memeriksa laporan dari Australia, Irlandia, Amerika Serikat, Inggris, Kanada dan Belanda, Profesor Cahill dan rekannya teolog Peter Wilkinson, menemukan bahwa satu dari 15 pastor, atau sekitar 7 persen, diduga melecehkan anak-anak dan remaja antara 1950 dan 2000.

Mereka mengatakan bahkan saat ini anak-anak "berisiko berada di institusi pendidikan dan kesejahteraan ketika mereka bisa diakses oleh selibat yang belum matang dan atau lemah secara seksual, termasuk pastor dan figur keagamaan".

Namun, Profesor Cahill, yang menjadi penasihat komisi khusus Royal Commission into Institutional Child Sexual Abuse, yakin bahwa risiko pada anak-anak di sekolah Katolik Australia sekarang sangat rendah. Hal itu terutama karena adanya kewaspadaan lebih besar para orangtua, guru dan pejabat sekolah.

Dia mengatakan sebagian besar kepala sekolah Katolik adalah pria dan wanita yang menikah, dan sangat sadar akan risiko pada anak-anak.

Keputusan Gereja Katolik di Australia, Amerika Serikat, Inggris, Selandia Baru dan Kanada untuk menghapuskan panti asuhan besar dan memindahkan anak-anak panti ke pengasuhan keluarga juga telah mengurangi risiko pelecehan secara substansial.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved