Kamis, 9 April 2026
ABC World

China Tak Senang dengan Buku Putih Australia Soal Laut China Selatan

Pemerintah China menggambarkan bahasa yang digunakan dalam Buku Putih Kebijakan Luar Negeri Australia terkait isu Laut China Selatan…

Pemerintah China menggambarkan bahasa yang digunakan dalam Buku Putih Kebijakan Luar Negeri Australia terkait isu Laut China Selatan sebagai "tidak bertanggung jawab". Media pemerintah China bahkan menyebut Australia sebagai pos "propaganda terdepan" yang menargetkan China.

Buku Putih atau White Paper yang dirilis setelah 13 tahun itu mendesak China menegakkan tatanan hukum - merujuk sikap Beijing yang mengabaikan keputusan pengadilan internasional tahun 2016 atas basis militer dan kegiatan reklamasi pulau di Laut China Selatan yang dipersengketakan.

Meski mengakui dalam Buku Putih ada sejumlah bahasa positif mengenai hubungan Australia - China, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lu Kang mendesak Australia berhenti mengungkit kekhawatiran tentang sengketa teritorial.

"Australia bukan merupakan pihak dalam sengketa Laut China Selatan," katanya Lu Kang kepada pers di Beijing.

"Australia berkali-kali mengklaim diri tidak memihak pada masalah kedaulatan Laut Cina Selatan. Jadi kami mendesak Australia untuk menepati janjinya," katanya.

White Paper juga menyebut Australia harus terlibat lebih dalam dengan negara-negara demokrasi lainnya di kawasan - sebuah langkah yang dipandang sebagai strategi berlindung di balik negara lain untuk melawan kekuatan otoriter yang semakin maju.

"Aturan yang diterima oleh masyarakat internasional tidak disusun oleh negara tertentu," kata Lu.

"China mengikuti peraturan berdasarkan tujuan dan situasi Perserikatan Bangsa-Bangsa sekarang, dan tidak didasarkan pada tujuan politik suatu negara tertentu," jelasnya.

Pejabat di Beijing telah lama menunjukkan ketidaksenangan mereka terhadap sikap Australia mengenai Laut China Selatan.

Beijing berusaha untuk mengendalikan jalur laut strategis itu dengan membangun pulau-pulau buatan dan pangkalan militer selama lima tahun terakhir.

Empat negara tetangga lainnya mengajukan klaim yang tumpang tindih sementara Taiwan dan China juga mengklaim sebagian besar wilayah tersebut.

Sebagai tanggapan terhadap White Paper Australi, tabloid Partai Komunis China (PKC), Global Times, menggunakan editorialnya untuk menyinggung sikap Australia terhadap China sebagai tidak tahu berterima kasih.

Medi nasionalistik itu juga menyebut dalam beberapa tahun terakhir, Australia telah menjadi semacam pos propaganda terdepan yang mempengaruhi negara-negara tetangga agar waspada terhadap China.

Editorial itu tampaknya jengkel mengapa pengaruh Beijing dalam perekonomian Australia tidak mengurangi kekhawatiran orang. Disebutkan bahwa China "dapat saja mengurangi hubungan dengan Australia dan mengabaikan sikap tidak dewasanya".

Negara lain, seperti Vietnam, juga telah meningkatkan fasilitas mereka di Laut China Selatan namun skala dan kecepatan pembangunan yang dilakukan China di sana belum tak ada bandingannya.

Dianggap tak melanggar aturan

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved