Kamis, 16 April 2026
ABC World

Berkah dan Keberuntungan Dari Kuil China Tertua di Australia

Kuil Joss House di Bendigo, Victoria dibangun untuk melindungi para penambang asal China, dan hampir 150 tahun kemudian masih digunakan…

Tujuannya datang adalah untuk melestarikan masa lalu, walau dia juga merasakan ketenangan dan kedamaian ketika berada di sana.

"Hanya dengan menyentuh tembok bata [di kuil ini] kita merasakan adanya sejarah di tempat ini," kata O\'Hoy.

Simbol persaudaraan, perlindungan dan perdagangan

Uang kematian
Uang neraka atau uang surga ditawarkan sebagai persembahanyang dibakar untuk para leluhur selama Tahun Baru Imlek untuk memastikan kesejahteraan mereka di akhirat.

ABC Central Victoria: Larissa Romensky

Dibangun pada tahun 1870-an, Kuil Joss House di Bendigo ini pernah menjadi bagian dari kamp penambang emas dari warga China bernama Ironbark.

"Mereka dipandang sebagai pesaing dan pemerintah pada dasarnya memisahkan mereka dari anggota masyarakat lainnya dengan memasukkan mereka ke dalam kamp," kata Wright.

Dia mengatakan bahwa Joss House dibangun karena kebutuhan untuk perlindungan terhadap diskriminasi, dimana orang-orang China membutuhkan dewa yang akan merawat mereka.

Kuil yang terbuat dari batu bata buatan tangan warga setempat itu didedikasikan untuk dewa Guan-Di, dewa perang dan kemakmuran, yang juga dikenal untuk membawa perdamaian dan keadilan ke China.

"Guan-Di adalah simbol persaudaraan, perlindungan dan perdagangan," kata Wright.

Keberuntungan berubah setelah berkunjung

Membakar dupa
Altar utama berisi seperangkat logam suci berjumlah lima buah, yang mewakili lima permata surga Budha.

ABC Central Victoria: Larissa Romensky

Beberapa tahun yang lalu, seorang ahli bedah di Bendigo Manny Cao merasa putus asa, namun setelah berkunjung ke kuil, keberuntungannya berubah.

Banyak dari proyek keuangannya mengalami kesulitan, jadi atas saran seorang teman, Cao mennyampaikan beberapa permintaan ketika berdoa dan saat berkendara pulang dia menerima telepon dari ayahnya tentang keberhasilan penjualan rumahnya.

Sejak saat itu banyak anggota keluarganya telah mengunjungi kuil ini dan mengalami nasib baik.

Pengungsi yang tiba dengan kapal di Australia pada usia dua tahun ini tidak dibesarkan dalam rumah tangga yang religius - orang tuanya dari Vietnam mempraktikkan filsafat Konfusianisme, dengan penekanan pada pemujaan leluhur.

"Saya percaya pada filosofi dalam hidup, bukan berarti agama. Ada baiknya memiliki semacam kepercayaan," kata Cao.

Kunjungannya setiap  enam pekan sekali ke kuil ini bukan hanya untuk mengamankan nasib baik, tapi juga untuk mengucapkan rasa syukur.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved