Benarkah Timor Leste Sia-siakan Peluang Untuk Jadi Negara Makmur?
Sebuah penerbangan pagi baru saja mendarat di Bandara Internasional Xanana Gusmao, yang terletak di pesisir selatan Timor-Leste. Rupanya,…
Sebuah penerbangan pagi baru saja mendarat di Bandara Internasional Xanana Gusmao, yang terletak di pesisir selatan Timor-Leste. Rupanya, itulah satu-satunya pesawat yang dijadwalkan hari itu. Penerbangan reguler berikutnya akan ada lagi empat hari kemudian.
Kesempatan yang Hilang:
- Timor-Leste ingin memproses sendiri cadangan minyak dan gas daripada mengirimnya ke Australia
- Biaya pembangunan infrastruktur untuk pemrosesan cadangan gas diperkirakan mencapai 16 miliar dolar
- Sejumlah pihak menyebut proyek ini akan gagal, ditandai dengan adanya proyek-proyek megah namun tidak banyak bermanfaat
Setelah 15 penumpang mengambil koper dan tas mereka, bandara megah ini pun kosong dan sepi kembali.
Di dalam terminal, tidak ada staf yang menjaga meja check-in. Mesin pemindai di imigrasi pun tidak dinyalakan.
Gerbang keberangkatan tampak kosong dengan kursi-kursi baru yang tampaknya belum pernah diduduki orang.
Tidak ada seorang pun yang tampak di ruang VIP.
Photo:
Bandara internasional ini terletak di dekat Kota Suai, dengan populasi sekitar 10 ribu jiwa. (ABC News: Michael Barnett)
Gambaran situasi seperti ini sudah terjadi sejak bandara di Kota Suai tersebut mulai beroperasi pada 2017. Lokasinya agak terpencil di bagian barat daya Timor-Leste.
"Saat ini masih kosong. Tak ada pelaung nyata bagi kedatangan lalu lintas udara ke sana," ujar pakar Timor Leste dari Deakin Univesity Australia, James Scambary.
"Kita tidak begitu paham apa yang ada dalam pikiran Pemerintah Timor ketika membangun bandara ini," tambahnya.
Menelan biaya 120 juta dolar, sejumlah pihak kini mempertanyakan mengapa mereka membangun bandara ini.
Photo:
Gerbang keberangkatan Bandara Internasional Xanana Gusmao yang tampak kosong. (ABC News: Michel Barnett )
"Banyak cara lain yang lebih berkelanjutan, lebih adil dan bermanfaat dalam membelanjakan uang tersebut," kata Charlie Scheiner dari La\'o Hamutuk, sebuah LSM pemantau pembangunan di Timor-Leste.
Tapi bukan hanya pembangunan bandara yang menimbulkan keheranan di negara yang dikategorikan masih miskin tersebut.
Hampir satu kilometer dari situ terdapat jalan raya bebas hambatan yang dibangun konsorsium China dengan biaya sekitar 500 juta dolar.