Minggu, 26 April 2026

Dari Kampung Komik Ardian Syaf Menembus Dunia

“Satu-satu, tidak usah berebut ya. Yang tidak kebagian gabung dengan yang lainnya,” katanya dengan sabar.

Namun komik bukan menjadi satu-satunya yang ditekuni oleh Ardian. Ayahnya kerap mengajaknya ke alam bebas, seperti ke pinggir Sungai Brantas dan menikmati alam sekitar. Setelah itu Ardian diminta untuk membuat sket di atas sebuah kertas gambar.

Semasa SMP, ayahnya menjabat sebagai pempimpin sebuah tabloid sastra Jawa yang terbit setiap minggu. Pada rubrik anak-anak, Ardian dipercaya penuh untuk membuat cerita bergambar berdasar imajinasinya. Itulah pertama kali Ardian membuat karya yang dipublikasikan secara luas.

Namun selama SD dan SMP nyaris tidak ada prestasi yang menonjol. Saat duduk dibangku SMAN 1 Ngunut, tahun 1995, tepat saat peringatan 50 tahun kemeridekaan RI, ada lomba melukis tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Panitia Peringatan Hari Besar Nasional.

Saat itu, ayahnya yang paling bersemangat untuk mengirim lukisannya. Di luar dugaan, berlomba di kelompok B / Remaja (SLA), Ardian dinyatakan sebagai pemenang. Piala yang nyaris tak terawat tersebut, kini menjadi kenang-kenangan prestasinya waktumasih berstatus pelajar.

“Mungkin itu prestasi saya di dunia seni rupa, saat masih sekolah. Satu-satunya prestasi yang berwujud piala,” ujarnya.

Fokus dengan bakatnya sejak kecil, tahun 1998 Ardian kemudian masuk ke IKIP Malang (sekarang Universitas Malang), ambil jurusan Desain Komunikasi Visual.

Selama kuliah, Ardian mematangkan kemampuannya di bidang-bidang lain yang masih ada kaitannya dengan seni rupa. Lulus tahun 2004, Ardian sempat menjadi tenaga layout di percetakan kampus, yang memproduksi buku dan LKS untuk mahasiswa. Masuk tahun 2005, atas sarand ari teman Ardian rajin browsing mencari informasi terkait lowongan kartunis yang kebanyakan dari perusahaan luar negeri.

Berulang kali mengajukan lamaran, Ardian mendapat kesempatan pertama di perusahaan Dobel Brothers yang berkedudukan di Amerika. Komik pertamanya berjudul Dresden Files. Sempat bekerja di Dobel Brothers tahun 2007 hingga tahun 2009, sayanganya perusahaan ini kemudian bangkrut.

“Sekitar dua tahun saya bekerja untuk Dobel Brothers, sebelum kemudian bangkrut. Saya kemudian harus mengajukan lamaran ke perusahaan-perusahaan lain,” ceritanya.

Berpengalaman dengan Dobel Brother, suami dari Efi Retnowati (30) ini tidak butuh waktu lama untuk mendapat pekerjaan baru. Tidak tanggung-tanggung, perusahaan Marvel Comics berminat dengan hasil goresan tangannya. Tentu saja menjadi sebuah kebanggaan karena Marvel merupakan perusahaan komik raksasa, yang dikenal dengan karakter super heronya, seperti X-Men. Cerita X-Men pula yang dikerjakannya selama bergabung dengan Marvel. Sebagai komikus baru di Marvel, Ardian hanya dipercaya 10 halaman setiap terbitan buku komik baru.

Karya Ardian digabungkan dengan komikus lain yang lebih dulu dikontrak oleh Marvel. Sayang Marvel hanya mempekerjakan Ardian hanya untuk penerbitan 3 buku komik, sebelum diberhentikan.

“Mungkin karya saya dirasa kurang cocok dengan Marvel, sehingga mereka tidak lagi butuh tenaga saya. Tapi tidak butuh waktu lama, saya sudah mendapat pekerjaan baru,” ujarnya.

Sumber   : Surya
Reporter : David yohanes

Sumber: Surya
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved