Fintech Disebut Menjadi Perpanjangan Tangan Bank dan Akses Finansial di Daerah

fintech hanya membutuhkan teknologi dan jaringan internet untuk bisa menjangkau masyarakat di area tersebut.

Fintech Disebut Menjadi Perpanjangan Tangan Bank dan Akses Finansial di Daerah
IST
ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pesatnya teknologi saat ini mendorong industri baru berbasis seperti financial technology (fintech), perdagangan elektronik (ecommerce), dan lainnya bermunculan.

Fintech menggabungkan akses keuangan dengan teknologi digital sebagai alternatif pilihan pada masyarakat selain lembaga keuangan konvensional.

Namun, bisnis fintech dan bank konvesional dinilai bersaing secara bisnis di sektor keuangan.
Sebab, kedua industri ini sama-sama dalam mencari keuntungan melalui nasabah.

Padahal, jika dilihat dari skema bisnis yang dijalankan, kedua industri ini saling membutuhkan satu sama lain.

“Hubungan antara perusahaan fintech dan perbankan sangatlah erat. Jika misalnya bank mau menyalurkan kredit, mereka bisa ajak kerja sama fintech, terutama di kota-kota kecil dimana bank tersebut tidak memiliki cabang,” ujar Chief of Executive Officer Digiasia Bios Hermansjah Haryono di Jakarta, Rabu (21/8/2019).

Menurutnya, perusahaan fintech sangat membantu bank konvensional dalam meningkatkan akses keuangan hingga ke pelosok-pelosok daerah.

Apalagi, fintech hanya membutuhkan teknologi dan jaringan internet untuk bisa menjangkau masyarakat di area tersebut.

Baca: OJK Sudah Blokir 1.230 Fintech Sejak 2018

Baca: Jadi Masalah Perdata, Polri Imbau Korban Fintech Illegal Lunasi Utang Sebelum Melapor

“Sedangkan, bank konvensional harus punya kantor cabang dan pegawai di daerah tersebut. Jadi, kedua industri ini hubungannya saling menguntungkan. Fintech sebagai perpanjangan tangan bank konvensional di daerah,” jelas Herman.

Herman menambahkan fintech juga membutuhkan bank konvensional untuk menyimpan uang nasabah.

Saat ini, DigiAsia Bios tengah menjajaki kerja sama dengan bank-bank daerah serta perusahaan-perusahaan besar yang memiliki jaringan hingga ke pelosok-pelosok.

“Digiasia sebagai fintech yang memiliki strategi bisnis Business to Business to Customer atau B2B2C merasa peluang di industri fintech masih sangat besar, apalagi di daerah-daerah. Jadi, pasarnya masih sangat luas. Padahal, lebih banyak daerah yang membutuhkan akses finansial melalui pemain di bisnis fintech ini,” pungkasnya.

Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved