Breaking News:

Anggaran Terbatas, APERSI Pesimis Penyediaan Rumah Bersubsidi Akan Sesuai Target

Junaidi mengaku pesimis bicara target dan realisasi rumah subsidi dalam kondisi sekarang, karena kuota terbatas, anggarannya pun terbatas.

TRIBUNNEWS/RIA ANASTASIA
Forum Rakernas dan HUT-ke 21 Apersi di Jakarta, Rabu (11/12/2019). 

 
 
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ria Anatasia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Skema pembiayaan rumah untuk warga masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) melalui fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) akan mengalami penyesuaian. 

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengatakan akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp11 triliun untuk memfasilitasi 102.500 unit rumah bersubsidi melalui skema FLPP di tahun 2020.

Menanggapi rencana itu, Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) berharap pemerintah lebih kreatif dalam mengelola anggara tersebut, sehingga jumlah rumah subsidi yang dibangun bisa lebih banyak.

Ketua Umum Apersi Junaidi Abdillah mengatakan kebutuhan rumah bersubsidi tahun depan akan mencapai 250 ribu unit. Sementara, anggaran subsidi melalui skema FLPP dan pembiayaan perumahan berbasis tabungan (BP2TB) hanya untuk membangun sekitar 120 ribu unit.

"Kami pikir anggaran itu belum cukup untuk memenuhi permintaan dari MBR karena jumlah subsidi akan habis lebih cepat dari waktunya," kata Junaidi Abdillah di sela Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan HUT-ke 21 Apersi di Jakarta, Rabu (11/12/2019).

Baca: Bank Jatim Rangkul Jamkrindo, REI dan SMF Penuhi Kebutuhan Properti Masyarakat Berpenghasilan Rendah

"Pemerintah perlu kreatif, bagaimana dengan anggaran terbatas untuk penambahan unit, namun realisasi KPR untuk MBR bertambah,” tambahnya.

Junaidi mengaku pesimis bicara target dan realisasi rumah subsidi dalam kondisi sekarang, karena kuota terbatas, anggarannya pun terbatas. 

Baca: Rencana Detail Tata Ruang Perlu Akomodir Zona Khusus untuk Rumah Rakyat

“Maunya kami, kalau memang konsisten ya anggarannya ditambah. Penambahan unit rumah MBR itu setiap tahun hampir 20 persen, tinggal kalikan saja,” ujarnya.

Junaidi menyatakan, anggaran FLPP yang terbatas itu akan memberi dampak kurang baik bagi industri perumahan. 

Halaman
12
Penulis: Ria anatasia
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved