Anggaran Terbatas, APERSI Pesimis Penyediaan Rumah Bersubsidi Akan Sesuai Target
Junaidi mengaku pesimis bicara target dan realisasi rumah subsidi dalam kondisi sekarang, karena kuota terbatas, anggarannya pun terbatas.
Junaidi mengatakan usulan tersebut sudah disampaikan ke Dirjen Pembiayaan Kementerian PUPR agar menambah anggaran yang ada.
“Saat ini pemerintah sudah banyak mengurangi subsidi lain, seperti listrik dan BBM. Tapi untuk perumahan jangan, karena masa depan bangsa itu diawali dari rumah,” harap Junaidi.
Junaidi menilai skema FLPP adalah “barang cantik” karena tak menambah beban pemerintah dan sifatnya merupakan dana bergulir.
Begitu pula dengan bantuan pembiayaan perumahan berbasis tabungan (BP2TB), tetapi yang ditakutkan Junaidi skema ini bisa berhenti kapan saja karena sifatnya berupa pinjaman dari Bank Dunia.
Apersi juga mengusulkan agar anggaran untuk pembangunan prasarana, sarana dan utilitas (PSU) bisa digulirkan ke FLPP. Hal itu dikarenakan pembangunan PSU bisa dilakukan swadaya oleh pengembang.
Menurut Junaidi, dana PSU dengan anggaran terbatas menyebabkan sebagian pengembang tidak bisa menikmati dan ada perasaan tidak adil.
“Kalau memang untuk meringankan, harusnya semua dapat, tanpa harus dipilih dan juga waktu penyalurannya tidak terlalu lama. Sebaiknya, dana PSU ini disatukan dengan dana FLPP agar lebih banyak lagi dana untuk rumah subsidi,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/forum-rakernas-apersi.jpg)