Selasa, 28 April 2026

Rizal Ramli Klaim Perang Dagang AS-China Untungkan Vietnam dan Thailand

Pertumbuhan ekonomi Indonesia bergerak stagnan lima persen disebabkan faktor eksternal satu di antaranya akibat masalah perang dagang

Tayang:
Penulis: Reynas Abdila
Editor: Fajar Anjungroso
ISTIMEWA
ILUSTRASI 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM - Pertumbuhan ekonomi Indonesia bergerak stagnan lima persen disebabkan faktor eksternal satu di antaranya akibat masalah perang dagang atau trade war.

Pengamat ekonomi senior Rizal Ramli mengkritik pemerintah Indonesia terlalu mudah menyalahkan faktor eksternal.

“Kalau ekonomi negara sehat seharusnya faktor eksternal trade war tidak berpengaruh. Di beberapa negara faktanya tumbuh. Ini mestinya jadi peluang memperbaiki makro kita,” ucap Rizal di kawasan Tebet, Jakarta, Jumat (20/12/2019).

Ia berpendapat banyak negara Asia seperti India yang pertumbuhan ekonominya 7 (tujuh) persen.

Baca: Ekonom Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh di Bawah Empat Persen

Adapun Filipina negara sekawasan di Asia Tenggara, pertumbuhan ekonominya 7,2 persen walaupun di tengah ketidakpastian dunia.

Rizal menegaskan dampak eskalasi perang dagang Amerika-China bahkan beberapa negara malah meraup keuntungan.

“Vietnam dan Thailand malah untung. Jangan salahkan faktor eksternal, kita tidak biasa mengantisipasi persoalan ini,” ucap Mantan Menko Kemaritiman tersebut.

Sebelumnya, Bank Indonesia mengatakan, ketidakpastian ekonomi global terutama terkait perang dagang antara AS-China masih memberi dampak negatif kepada perekonomian negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Hal tersebut berdampak pada pertumbuhan ekonomi, kinerja ekspor hingga investasi yang melambat.

“Jadi masalah di semua negara berkembang yang terkena dampak trade war, volatilitas di pasar keuangan, serta melambatnya turunnya proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia di ekspor. Ini dialami di banyak emerging markets termasuk Indonesia," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo.

Selain itu, pertumbuhan investasi yang rendah juga diakibatkan oleh perlambatan ekspor yang berdampak pada pengurangan produksi.

“Dengan ekspor melambat permintaan produksi berkurang dan otomatis investasi berkurang dan akan menurunkan pendapatan devisa ekspor," jelas Dody.

"Kemudian menurunkan pendapatan yang berakhir kepada konsumsi yang tidak akan setinggi dari yang diperkirakan," imbuhnya.

Dia berharap ke depannya investasi tak hanya didorong melalui policy atau kebijakan bank sentral.

Salah satu yang diupayakan BI adalah memperkuat sektor manufaktur unggulan, antara lain tekstil, otomotif, dan alas kaki.

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved