Breaking News:

Ricuh di Hong Kong, Beijing Membalas Tindakan AS dengan Setop Impor Produk Pertanian

Perselisihan itu diprediksi dapat memperburuk hubungan yang sudah tegang antara dua ekonomi terbesar di dunia tersebut.

FINANCIAL TIMES
Polisi anti huru-hara bersiaga di berbagai sudut kota Hong Kong sejak konflik dengan demonstran kembali memanas. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, BEIJING - Pejabat China dikabarkan telah memerintahkan perusahaan pertanian besar di negara itu untuk menghentikan pembelian beberapa produk pertanian Amerika Serikat (AS), termasuk kedelai.

Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS di Hong Kong.

Menurut laporan media setempat, importir utama China untuk produk-produk pertanian, COFCO dan Sinograin, telah diberitahu untuk melakukan penangguhan terkait pembelian kedelai AS, babi dan komoditas lainnya.

Kendati demikian, sebuah sumber mengatakan bahwa perusahaan swasta belum memperoleh pemberitahuan untuk menghentikan impor mereka.

Baca: Antisipasi Rusuh di AS Meluas, Secret Services Sempat Sembunyikan Donald Trump di Bunker

Sementara itu, data bea cukai AS menunjukkan bahwa China membeli produk pertanian Amerika senilai 3,1 miliar dolar AS dalam waktu tiga bulan, yakni hingga Maret 2020.

Sedangkan menurut data yang dimiliki China, pembelian itu berjumlah total 5 miliar dolar AS.

Baca: Acara Pesta Ulang Tahun Berujung Petaka, 40 Orang Keracunan Massal Nasi Kuning Lauk Telur Itik

Dikutip dari laman Russia Today, Selasa (2/6/2020), penangguhan kegiatan impor China ini menyusul rencana Presiden AS Donald Trump untuk menghapus tunjangan perdagangan dan perjalanan Hong Kong terkait Undang-undang (UU) Keamanan baru China.

Baca: Penjelasan Polisi Tentang OTK yang Bakar Mobil Patroli dan Menyerang Polsek Daha Selatan

Pada hari Jumat lalu, Trump juga mengancam akan memberikan sanksi terhadap pejabat China dan Hong Kong.

Perselisihan itu diprediksi dapat memperburuk hubungan yang sudah tegang antara dua ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Trump pun secara berkala mengancam akan membatalkan perjanjian perdagangan fase satu yang ditandatangani oleh kedua belah pihak pada Januari lalu.

Menurut ketentuan perjanjian itu, China harus membeli tambahan barang-barang AS senilai 200 miliar dolar AS selama dua tahun ke depan, termasuk produk pertanian senilai 50 miliar dolar AS.

Sementara AS, pada bagiannya, telah mengurangi tarif pada beberapa barang China, namun tetap mempertahankan bea pada produk senilai 375 miliar dolar AS.

Sejak mulai secara bertahap membuka kembali ekonominya setelah penerapan sistem penguncian (lockdown) akibat pandemi virus corona (Covid-19), China telah meningkatkan kecepatan impornya.

Termasuk terkait impor pada lebih dari satu juta ton muatan kedelai Amerika hanya dalam waktu dua minggu di bulan Mei 2020, serta produk lainnya seperti minyak dan etanol.

Berita Populer
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved