Minggu, 12 April 2026

Virus Corona

Menko Airlangga Jelaskan Dampak PSBB Bikin Ekonomi Tidak Minus Dalam

pemerintah berada dalam jalur benar saat melakukan PSBB selain karena bersifat regional atau tidak dipukul rata, juga masih membuka kawasan industri

Penulis: Yanuar R Yovanda
Editor: Sanusi
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang juga Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartanto bersama News Director Tribun Network, Febby Mahendra Putra usai wawancara khusus dengan Tribun Network di Kantor Tribun Network, Jakarta, Selasa (1/9/2020). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan, ekonomi Indonesia masih tercatat minus 1 digit atau 5,32 persen pada kuartal II 2020, karena adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, minus 1 digit itu karena pemerintah memilih PSBB ketimbang lockdown.

"Bedanya lockdown dan PSBB gitu. Jadi, kalau PSBB kan kita di awal sudah membuka 12 sektor termasuk sektor industri, berarti kita punya ketahanan," ujarnya saat menyambangi Kantor Redaksi Tribunnews, Rabu (2/9/2020).

Baca: Pariwisata Kembali Dibuka, Menko Airlangga Sebut Bali Berpengalaman Atasi Krisis

Baca: Pemerintah Optimistis Krisis Covid-19 Tidak Lebih Parah Dibandingkan 1998 dan 2008

Sementara, lanjut Airlangga, jika pemerintah memilih lockdown saat April maka semua kegiatan ekonomi akan berhenti.

"Ekonomi adalah barang dan perdagangan. Pada saat tidak ada barang dan perdagangan sudah pasti berhenti," katanya.

Menurutnya, pemerintah berada dalam jalur benar saat melakukan PSBB selain karena bersifat regional atau tidak dipukul rata, juga masih membuka kawasan industri dengan menjalankan protokol agar aman.

Selain itu, Indonesia memiliki pasar domestik besar, sehingga tidak berdampak signifikan jika terjadi gangguan ekonomi di global.

Beda halnya dengan ekonomi negara tetangga yaitu Singapura jatuh dalam hingga dua digit atau 12 persen dan berujung resesi.

Jadi, begitu ekonomi global sedang berhenti, Indonesia masih punya daya tahan dari sisi domestik ditambah beberapa sektor pengungkit.

"Sektor pengungkit yakni pertanian karena dalam situasi apapun kebutuhan untuk pangan tetap ada, sehingga dengan demikian sektor pangan masih aman. Kemudian, sektor digital, dengan adanya pandemi maka semua terpaksa work from home dan terpaksa menggunakan aplikasi digital, sehingga sektor infokom positif," pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved