Kamis, 28 Mei 2026

Gejolak Rupiah

Nilai Tukar Rupiah Terjun Bebas Hampir Sentuh Rp17.900 per Dolar AS, Berikut Faktor Pemicunya

Tekanan domestik berasal dari kebutuhan dolar yang meningkat, beban utang, serta kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal dan arus modal keluar.

Tayang: | Diperbarui:
Tribunnews/Jeprima
NILAI TUKAR RUPIAH - Petugas merapikan mata uang rupiah dan dollar di Kantor Cabang Muamalat Tower, Jakarta. Sekitar pukul 12.00 WIB, rupiah spot di posisi Rp 17.876 per dolar AS, merosot 0,42?ri sehari sebelumnya di level Rp 17.801 per dolar AS. 

Ringkasan Berita:
  • Rupiah melemah ke Rp17.876 per dolar AS dan berpotensi menembus Rp18.000 akibat sentimen global seperti ketegangan Timur Tengah dan lonjakan harga minyak.
  • Tekanan domestik juga berasal dari kebutuhan dolar yang meningkat, beban utang, serta kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal dan arus modal keluar.
  • Pelemahan rupiah berdampak ke industri elektronik yang bergantung 60 persen pada impor, sehingga berpotensi memicu penyesuaian harga produk di pasar.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS makin ambruk pada saat cuti bersama Iduladha, Kamis (28/5/2026) siang.

Sekitar pukul 12.00 WIB, rupiah spot di posisi Rp 17.876 per dolar AS, merosot 0,42 persen sehari sebelumnya di level Rp 17.801 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, mengatakan, rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS bisa saja terjadi pada perdagangan Jumat (29/5/2026) seiring kuatnya sentimen negatif dari dalam dan luar negeri.

Baca juga: Kata Purbaya soal Kurs Rupiah Tembus Rp17.800: Nggak Masuk Akal, Fundamental Ekonomi Bagus

"Perdagangan hari, rupiah bisa melemah 100 poin ke level Rp17.900 per dolar AS," ujar Ibrahim.

Ibrahim menjelaskan, faktor dari eksternal yang membuat rupiah tertekan yaitu meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, setelah Amerika Serikat kembali 
melancarkan serangan ke sejumlah instalasi Iran.

"Saat rapat di Gedung Putih, Trump (Presiden AS Donald Trump) juga menyampaikan akan menyerang Oman, yang mendukung perdamaian AS-Iran," kata Ibrahim.

"Bahkan Trump menyiapkan perang besar ke Iran berdasarkan intelejen Rusia. Kapal-kapal besar AS dengan teknologi canggih pun sudah mendarat di Israel," sambungnya.

Atas kondisi tersebut, kata Ibrahim, harga minyak dunia kembali melonjak di atas 92 dolar AS per barel, dan hal ini membuat lonjakan inflasi secara global.

Di dalam negeri, Ibrahim menyebut, lonjakan harga minyak dunia membuat kebutuhan dolar AS akan meningkat karena Indonesia masih menjadi pengimpor minyak.

Belum lagi, pembayaran utang jatuh tempo pemerintah yang bungnya sampai Rp600 triliun.

"Pasar juga tertuju kepada MBG dan Koperasi Merah Putih yang dinilai manajemennya abruradul merugikan sekitar Rp45 triliun. Ini membuat investor asing ketakutan, sehingga arus modal asing keluar deras pekan ini," ujar Ibrahim.

Tak Masuk Akal

Menteri Keuangan Purbaya menilai pelemahan rupiah saat ini tidak masuk akal karena menurutnya fundamental ekonomi Indonesia dalam kondisi bagus.

"Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini enggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental," kata Purbaya di Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jakarta Selatan, Rabu (27/5/2026).

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved