Breaking News:

Pandemi Bikin Anjlok Investasi Asing Langsung Secara Global

PBB memperingatkan, FDI diprediksi akan terus turun hingga 40 persen jelang akhir tahun ini, didorong munculnya kekhawatiran terjadinya resesi

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Sanusi
KOMPAS/RIZA FATHONI
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, NEW YORK - Sebuah laporan perdagangan dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang dikeluarkan pada hari Selasa kemarin, mengatakan investasi asing langsung (FDI) telah anjlok hingga 49 persen di seluruh dunia pada paruh pertama 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

PBB memperingatkan, FDI diprediksi akan terus turun hingga 40 persen jelang akhir tahun ini, didorong munculnya kekhawatiran terjadinya resesi yang dalam.

Baca juga: Bank Dunia Apresiasi Sistem Pendistribusian Bantuan Sosial di Indonesia

Baca juga: Suramnya Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Versi Lembaga Dunia, IMF hingga Bank Dunia

Sebuah laporan yang dikeluarkan Konferensi PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) menunjukkan bahwa aliran FDI ke ekonomi Eropa berubah negatif untuk kali pertama, turun menjadi minus 7 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dari 202 miliar dolar AS atau setara 171 miliar euro.

Sementara itu arus investasi asing langsung ke AS mengalami penurunan sebanyak 61 persen menjadi 51 miliar dolar AS.

Seperti yang disampaikan Direktur Divisi Investasi dan Perusahaan UNCTAD, James Zhan.

"Arus FDI global untuk paruh pertama tahun ini turun hampir setengahnya, itu lebih drastis dari yang kami perkirakan sepanjang tahun ini, diperkirakan akan terus menurun 30 hingga 40 persen tahun ini," jelas Zhan.

Dikutip dari laman Russia Today, Rabu (28/10/2020), angka tersebut mencakup merger dan akuisisi lintas batas, proyek investasi greenfield baru, dan kesepakatan pembiayaan proyek.

Menurut laporan itu, negara-negara industri yang biasanya menyumbang sekitar 80 persen dari transaksi global, menjadi yang paling terpukul, dengan arus turun menjadi 98 miliar dolar AS, kerugian ini terakhir dialami pada 1994 silam.

Di antara penerima FDI utama pada 2019, aliran investasi yang menurun ini paling kuat terjadi di Italia, Amerika Serikat, Brazil, dan Australia.

Sementara China melawan tren, bahkan arus FDI mereka relatif stabil.

"Untuk semester pertama tahun ini, penurunannya sangat kecil dan bahkan menurut data terakhir, selama sembilan bulan pertama tahun ini, secara keseluruhan FDI ke China meningkat sebesar 2,5 persen," kata Zhan.

Sebagian besar investasi FDI di China masuk dalam layanan perdagangan elektronik, layanan teknologi khusus, serta penelitian dan pengembangan.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved