Breaking News:

Pemerintah Terlalu Percaya Diri, Resesi Ekonomi Indonesia Mengingatkan Krisis 1998

Perekonomian Indonesia saat ini mengalami dua pukulan telak, yaitu resesi dan pertumbuhan ekonomi secara kumulatif yang masih negatif selama 2020. 

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Choirul Arifin
Arief/Man (dpr.go.id)
Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan. 

Laporan Wartawan Tribunnews Taufik Ismail 

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA - Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Gerindra Heri Gunawan menilai, perekonomian Indonesia saat ini mengalami dua pukulan telak, yaitu resesi dan pertumbuhan ekonomi secara kumulatif yang masih negatif selama 2020. 

Indonesia masuk fase resesi karena dua kuartal berturut-turut pertumbuhan ekonomi mengalami minus. Pada kuartal II pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32.  sementara pada kuartal III pertumbuhan ekonomi minus 3,49 persen.

"Sementara secara kumulatif pun selama 2020 dari kuartal I, kuartal II, dan kuartal III, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar minus 2,03 persen," kata Heri dalam keterangan tertulis yang diterima Tribun, Kamis, (12/11/2020).

Menurut dia, masuknya Indonesia dalam jurang resesi pada 2020 mengingatkan kembali peristiwa 1998. Krisis ekonomi pada saat itu diawali dengan resesi.

Baca juga: Legislator PKS Ingatkan Pemerintah, Harus Kerja Lebih Keras Menanggulangi Dampak Resesi

Terjadinya krisis ekonomi 1998 saat itu tidak bisa dilepaskan dari sikap pemerintah yang terlalu percaya diri atas fundamental ekonomi. Ia mengatakan sikap terlalu percaya diri tersebut mirip yang terjadi sekarang ini.

Baca juga: Masuk Jurang Resesi, INDEF Sarankan Pemerintah Rombak Program Stimulus PEN

"Kritik akan terjadinya kemunduran ekonomi tidak diindahkan. Pemerintah terus memproduksi alibi bahwa perekonomian Indonesia masih lebih baik dari negara lain. Faktor eksternal selalu dijadikan tameng menutupi kelemahan fundamental ekonomi domestik," katanya.

Kepercayaan diri tersebut terlihat dari, sikap pemerintah yang mematok pertumbuhan ekonomi di kuartal tiga kemarin di angka 0 hingga minus 2,1 persen. Nyatanya kontraksi terjadi lebih tinggi yakni 3,49 persen.

Padahal menurut Heri sumber daya yang dikeluarkan pemerintah untuk menghadang terjadinya resesi cukup besar. Awalnya pemerintah terkesan lambat merespon dampak Covid19. Pada kuartal II-2020 realisasi anggaran Covid19 sangat sedikit sekali. Sampai akhirnya Presiden Jokowi berkali-kali mengumbar kemarahan kepada bawahannya di ruang publik. 

"Kelambanan mengucurkan stimulus pada kuartal II-2020 diganjar pertumbuhan ekonomi yang merosot tajam hingga 5,32 persen secara tahunan. Maka mulai kuartal III 2020, pemerintah menggelontorkan stimulus ratusan triliun secara jor-joran untuk menjaga konsumsi masyarakat agar daya belinya tidak makin melemah," katanya.

Ia mengatakan, dengan stimulus tersebut belanja pemerintah pun melesat menjadi penggerak perekonomian di kuartal III-2020. Sesuai catatan BPS yang dipaparkan sebelumnya, pengeluaran konsumsi pemerintah jadi satu-satunya komponen produk domestik bruto (PDB) yang mampu tumbuh positif yakni 9,76 persen secara tahunan. Hasil tersebut memperbaiki kinerja di kuartal sebelumnya dimana konsumsi pemerintah merosot tajam 6,9 persen.

Hanya saja besarnya ongkos menghadang resesi ini berbuntut membengkaknya defisit anggaran. Menurut catatan Kementerian Keuangan, sepanjang Januari-September 2020 defisit Anggaran Pendapatan dan  Belanja Negara (APBN) 2020 telah mencapai Rp687,5 triliun atau setara dengan 4,16 persen PDB Indonesia. 

"Defisit anggaran itu naik 170,2 persen dari defisit di periode sama tahun 2019, senilai Rp252,41 triliun," pungkasnya.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved