Minta Bantuan Uni Eropa, Airbus Risau dengan Tarif Baru Suku Cadang oleh AS
Airbus meminta bantuan Uni Eropa (UE) agar menanggapi hal ini secara tepat.
Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari
TRIBUNNEWS.COM, LEIDEN - Raksasa kedirgantaraan Eropa Airbus memperingatkan bahwa tarif baru Amerika Serikat (AS) yang menargetkan suku cadang pesawat, dapat menjadi bumerang bagi pekerja Amerika.
Airbus meminta bantuan Uni Eropa (UE) agar menanggapi hal ini secara tepat.
Perselisihan dagang antara UE dan AS terkait subsidi kedirgantaraan bagi produsen pesawat Airbus dan Boeing, semakin meningkat pada 2021.
Hal itu karena Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) mengumumkan rencana untuk menaikkan bea atas produk wine Prancis dan Jerman, serta tarif suku cadang pesawat.
Namun belum jelas kapan tarif baru itu akan diberlakukan.
Sedangkan rincian besaran pungutannya pun hingga saat ini belum dibocorkan.
Dikutip dari lRussia Today, Jumat (1/1/2021), penerapan tarif baru AS ini dipicu klaim AS yang menyatakan UE bertindak tidak adil karena memberikan subsidi bagi Airbus, namun mengenakan tarif bagi produsen pesawat asal AS, Boeing.
"Perluasan tarif USTR untuk memasukkan komponen pesawat yang diproduksi di AS oleh pekerja Amerika, kontraproduktif dalam segala hal," kata seorang Juru Bicara Airbus dalam pernyataannya.
Airbus meyakini Uni Eropa akan menanggapi secara tepat tarif baru AS ini untuk membela kepentingannya dan kepentingan semua sektor serta perusahaan Eropa.
Baca juga: Singapura Airlines Gunakan Pesawat Jumbo Airbus A380 Jadi Sebuah Restoran
"Termasuk Airbus, yang menjadi sasaran tarif tidak jelas dan kontraproduktif ini," jelas Juru bicara tersebut.
Peringatan serupa sebelumnya diserukan oleh Aliansi Perdagangan Wine AS.
Presiden asosiasi itu menyebut kenaikan tarif baru ini merupakan pukulan telak bagi perusahaan Amerika.
Baca juga: Tutup Tahun di Tengah Pandemi: Negara-negara Eropa Rayakan Malam Tahun Baru dengan Cara Ini
Karena dapat menghancurkan lebih banyak pekerjaan di sektor jasa yang berjuang untuk bertahan hidup di tengah pandemi virus corona (Covid-19).
Kendati demikian, AS tidak peduli dan membenarkan langkah terbaru itu sebagai cara yang tepat untuk membalas penghitungan bea masuk yang tidak adil dari UE terhadap barang-barang AS.