Breaking News:

Insentif PPN Dongkrak Penjualan Rumah Tapak di Kuartal III 2021

Tren harga rumah tapak kembali naik sebesar 2,36 persen dibandingkan kuartal sebelumnya (QoQ). 

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Choirul Arifin
IST
ILUSTRASI - Booth pengembang di pameran properti Indonesian Property Expo 2019 di Hall B Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Agustus 2019. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penjualan properti kembali naik berkat dukungan insentif pajak pertambahan nilai (PPN) dari pemerintah.

Country Manager Rumah.com Marine Novita mengutip Indonesia Property Marketing Index Q3/2021 menyatakan, tren harga rumah tapak kembali naik sebesar 2,36 persen dibandingkan kuartal sebelumnya (QoQ). 

Wilayah Tangerang, Banten, mencatatkan kenaikan tertinggi mencapai 6,94 persen (QoQ). 

Rumah tapak yang paling diminati di kisaran harga Rp300 juta-Rp750 juta dengan mayoritas pencarian sebesar 57 persen masih berada pada kisaran Rp1 miliar.

“Berbagai indikator yang baik ini tidak terlepas dari regulasi dan insentif pemerintah seperti insentif Pajak Pertambahan Nilai yang Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) 100 persen untuk properti siap huni untuk harga maksimal Rp 2 miliar,” ucap Marine dalam keterangannya, Jumat (10/9/2021).

Baca juga: Bank Mandiri Kenalkan Aplikasi KPR dan Pencarian Properti untuk Milenial

Faktor pendorong lainnya adalah suku bunga acuan (BI 7 Days Reverse Repo Rate) sebesar 3,5 persen. Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan hingga 75 basis poin selama setahun terakhir yang membuat kondisi pasar kian bergairah.

Baca juga: Perumnas Genjot Proyek TOD Setelah Lunasi Pembayaran MTN Jatuh Tempo

Strategi menyasar segmen market tertentu dengan konsep produk yang tepat antara lain dilakukan PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR).

Berbagai analis memprediksi LPKR berpotensi mencapai target pendapatan pra-penjualan (marketing sales) tahun ini. 

Baca juga: Hunian Tapak Berkonsep TOD Jadi Alternatif Baru Tempat Tinggal di Jakarta

LPKR merevisi target pra-penjualan menjadi Rp4,2 triliun, naik 20 persen dari target sebelumnya Rp3,5 triliun yang sekaligus menjadi rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir. 

Analis CLSA Sekuritas Jonathan Mardjuki menyebut pendapatan LPKR terus menunjukkan peningkatan dari tahun 2017-2020 mulai Rp704 miliar pada tahun 2017 dan Rp1,6 triliun di tahun 2018, kemudian pada tahun 2019 sebesar Rp1,8 triliun dan di tahun 2020 berhasil mencapai Rp2,6 triliun. 

“Tren positif pendapatan pra-penjualan LPKR terus berlanjut dimana pada Semester I/2021 LPKR telah berhasil membukukan Rp2,33 triliun, tumbuh 122 persen YoY,” imbuhnya

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved