Gejolak Rupiah
Rupiah Diprediksi Makin Tersungkur, Pekan Besok Bisa Tembus Rp17.550 per Dolar AS
Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah Kamis kemarin telah melemah 0,31 persen secara harian ke Rp 17.378 per dolar AS.
Ringkasan Berita:
- Rupiah diprediksi melemah hingga Rp17.500–Rp17.550 per dolar AS dipicu geopolitik, The Fed, dan arus modal keluar.
- Penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak jadi faktor utama tekanan nilai tukar.
- Risiko overshooting muncul jika sentimen global dan kekhawatiran fiskal domestik memburuk bersamaan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap rupiah pada perdagangan pekan besok diprediksi masih akan tertekan hingga sentuh level di atas Rp17.500 per dolar AS.
"Kemungkinan besar dalam perdagangan di minggu depan Rp17.550 per dolar AS," kata Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, Sabtu (3/5/2026).
Tercatat, rupiah pada perdagangan Kamis (30/4/2026) ditutup melemah 27 poin di level Rp17.353 per dolar AS.
Baca juga: Pergerakan IHSG Besok Diprediksi Lanjut Melemah, Rupiah dan Geopolitik Jadi Beban
Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,31 persen secara harian ke Rp 17.378 per dolar AS.
Ibrahim menjelaskan, beberapa faktor yang mempengaruhi mata uang rupiah, terutama dari masalah geopolitik di Timur Tengah hingga kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.
"50 persen itu pengaruhnya adalah dari geopolitik, tapi masih ada juga hal-hal lain. Jadi pertama adalah geopolitik, kemudian yang kedua perpolitikan di Amerika, yang ketiga adalah perang dagang, yang keempat adalah kebijakan bank sentral global, kemudian yang kelima adalah suplay dan demand," papar Ibrahim.
Ia menyebut, persoalan perang di Timur Tengah masih panjang, yang mana hal ini mempengaruhi penguatan dolar AS dan harga minyak dunia.
Hal yang sama juga disampaikan, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy.
Ia menilai pergerakan mayoritas pasangan mata uang yang menguat terhadap rupiah mencerminkan kombinasi kuatnya dolar AS, arus keluar dana asing, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal domestik.
"Menurut saya pelemahannya masih tergolong “bisa dijelaskan pasar”, tetapi mulai terasa berlebihan jika tidak diikuti perbaikan fundamental dan stabilisasi sentimen," kata Budi dikutip dari Kontan.
Di sisi lain, penguatan pasangan AUD/IDR menjadi yang paling mencolok.
Hal ini dipicu oleh dua faktor sekaligus, yakni pelemahan rupiah dan penguatan dolar Australia yang terdorong oleh rebound harga komoditas serta sentimen positif dari China.
Secara teknikal, Budi melihat level psikologis berikutnya untuk pasangan USD/IDR berada di kisaran Rp 17.500 per dolar AS.
Sementara itu, jika terjadi pembalikan arah, level support terdekat diperkirakan berada di rentang Rp 16.900 hingga Rp 17.000 per dolar AS.
Ia juga mengingatkan adanya risiko skenario terburuk, yakni jika penguatan indeks dolar berlanjut, arus keluar asing meningkat, tensi global memanas, dan muncul keraguan terhadap stabilitas fiskal domestik secara bersamaan.
"Jika kondisi tersebut terjadi secara bersamaan, rupiah berpotensi mengalami overshooting dalam jangka pendek," ujar Budi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Nilai-Tukar-Rupiah-Melemah-Terhadap-Dolar-AS_20250408_171517.jpg)