Harga Komoditas Telur hingga Minyak Goreng Turun, BI Prediksi Februari Deflasi 0,11 Persen

penyumbang utama deflasi bulan ini ditempati oleh komoditas telur ayam ras, kemudian disusul oleh minyak goreng.

Penulis: Bambang Ismoyo
Editor: Sanusi
Hendra Gunawan/Tribunnews.com
Ilustrasi: Penjualan minyak goreng di salah satu swalayan di Jakarta Selatan 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) dalam laporannya menyebutkan, berdasarkan survei pemantauan harga minggu kedua Februari 2022, perkembangan harga pada Februari 2022 masih relatif terkendali.

Dengan adanya survei ini, Bank Sentral memperkirakan terjadi deflasi sebesar 0,11 persen secara bulanan (month to month/mtm).

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono mengatakan, penyumbang utama deflasi bulan ini ditempati oleh komoditas telur ayam ras, kemudian disusul oleh minyak goreng.

Baca juga: Jumlah Dukungan Petisi Hampir 2.000, YLKI Dorong Pengusutan Dugaan Praktik Kartel Minyak Goreng

“Penyumbang utama deflasi yaitu komoditas telur ayam ras sebesar -0,12 persen (mtm), minyak goreng sebesar -0,09 persen (mtm), daging ayam ras sebesar -0,07 persen (mtm), cabai rawit sebesar -0,05 persen (mtm), cabai merah sebesar -0,02 persen (mtm), dan angkutan udara sebesar -0,01 persen (mtm)," jelas Erwin dalam keterangannya di Jakarta (11/2/2022).

Dalam survei ini, Bank Indonesia juga mencatat sedikit komoditas yang mengalami inflasi.

Baca juga: Minyak Goreng Langka Akibat Ditimbun? Aprindo Sebut Tak Masuk Akal hingga Produsen Mengaku Bingung

Komoditas tersebut yaitu bawang merah sebesar 0,03 persen (mtm), tomat dan sabun detergen bubuk/cair masing-masing sebesar 0,02 persen (mtm), serta beras dan rokok kretek filter yang masing-masing sebesar 0,01 persen (mtm).

Dengan adanya survei pemantauan harga, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu.

“Serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan,” pungkas Erwin.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved