Minggu, 31 Agustus 2025

Dibayangi Krisis Ekonomi Global, Ekonom Sebut Indonesia Masih Relatif Jauh dari Resesi

ditengah gelombang inflasi pasca pandemi dan tensi politik global, Indonesia diperkirakan masih relatif jauh dari resesi.

Editor: Sanusi
kafkadesk.org
ilustrasi. Di tengah proyeksi krisis ekonomi dan resesi global yang diakibatkan oleh gelombang inflasi pasca pandemi dan tensi politik global, Indonesia diperkirakan masih relatif jauh dari resesi. 

Pertama, dinamika global, baik dari segi ekonomi maupun geopolitik. Kedua, opsi kebijakan domestik serta responnya. Ketiga, pengambilan posisi oleh investor asing. Sebagaimana kejadian pada krisis 2008 dan 2020, apakah para investor asing tersebut dalam keadaan panik sehingga harus menjual portofolionya di Indonesia?

“Nah, ini perlu kita evaluasi. Acuan untuk cuan, lebih baik mengendalikan kerakusan, cukup rajin ambil untung, built in, dan cegah cut loss.”

Lebih lanjut, Budi menilai pasar modal Indonesia memasuki musim semi. Artinya ada peluang untuk bergerak membaik dan memberikan cuan. Secara historikal, Budi menyebutkan bahwa semester kedua biasanya market memang mengalami volatilitas.

Selama 15 tahun terakhir, ujarnya, ada kecenderungan pola huruf V pada triwulan ketiga tahun berjalan, serta kecenderungan pasar memerah pada November, kemudian berbalik menjadi hijau pada Desember.

“Apakah tetap tesis ini? Saya sendiri menguji diri dengan investasi saya.”

Baca juga: Indonesia Berpotensi Resesi, Apa Dampaknya? Ini Tanggapan Menkeu

Dalam kesempatan yang sama, Ade Permana, professional independent, trader dan investor, setuju bahwa Indonesia dikatakan masih relatif jauh dari resesi. Menurut dia, hal itu pun tergambar di performa pasar modal.

Dia menyebutkan bahwa sejak harga tertinggi pada 11 April hingga saat ini, IHSG mengalami koreksi sekitar 10 persen. Di saat yang sama, indeks Dow Jones yang menunjukkan kinerja pasar modal AS mengalami penurunan lebih dari 19 persen atau hampir 20 persen.

“Artinya dari segi ekonomi, dari segi indeks saham, kita [Indonesia] termasuk yang paling bagus di dunia untuk saat ini. Bahkan di regional pun Indonesia masih perkasa,” ujarnya.

Kendati demikian, ujarnya, Dow Jones perlu terus dipantau karena Amerika menjadi salah satu barometer pelaku pasar dalam negeri. Terlebih, sebanyak 60 persen - 70 % investor di pasar modal Indonesia merupakan investor asing.

Indeks selanjutnya yang juga terus dipantau adalah DXY atau indeks dolar serta XAU atau indeks emas.

“Kenapa? Karena banyak juga emiten-emiten kita yang listing di bursa efek itu sensitif terhadap pergerakan salah satunya XAU, DXY sama Dow Jones Industrial,” tutur Ade.

Fase Sideways

Direktur PT Kurikulum Saham Indonesia Alex Sukandar, menyebutkan bahwa pasar saat ini sedang memasuki fase sideways yang cukup besar, seolah-oleh membentuk triangle besar. Oleh karena itu, lanjutnya, harga terlihat sangat volatile.

Dari sisi performa, lanjutnya, sejumlah sektor masih terbilang unggul. Di antaranya IDXEnergy (sektor energi), IDXTransportation (sektor transportasi dan logistik), IDXIndustry (sektor industri), IDXHealth (sektor perawatan kesehatan), dan IDXNoncyc (sektor konsumer non-cyclicals).

Sementara itu, index composite yang sempat bertumbuh, malah menjadi minus. Pelemahan indeks terutama tertekan oleh penurunan IDXProperty, IDXTechno, dan IDXFinance. Kendati demikian, Alex menilai investor mewaspadai prospek tiap-tiap sektor di masa mendatang.

Halaman
123
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan