10 Emiten Pencetak Cuan Tertinggi bagi Investor Pasar Modal

Pendekatan Wealth Added Index (WAI) jadi tools bagi investor untuk memilih saham perusahaan yang prospektif, terutama untuk investasi jangka panjang

Penulis: Choirul Arifin
Editor: Eko Sutriyanto
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Karyawan melihat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/8/2022). IHSG ditutup menguat pada level 7.159,47 dimana nilai tersebut naik 27,43 poin atau 0,38 persen dari penutupan perdagangan sebelumnya, yakni 7.132,04 poin. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Laporan Wartawan Tribunnews, Choirul Arifin

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dalam kondisi pandemi yang belum berakhir, sejumlah emiten di pasar modal berhasil menciptakan nilai tambah bagi para investor yang menjadi pemegang sahamnya.

Hal ini tidak mudah mengingat faktor eksternal dan internal  memengaruhi performa saham-saham jempolan tersebut.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) per April 2022, menunjukkan jumlah investor tercatat  8,62 juta orang atau melonjak  15,11 persen dibandingkan tahun 2021 sekitar 7,48 juta orang.

Pendekatan Wealth Added Index (WAI) dapat menjadi tools bagi investor untuk memilih saham perusahaan yang prospektif, terutama untuk investasi jangka panjang.

Semakin tinggi nilai WAI, maka makin bagus kinerja saham itu.

Demikian sebaliknya, jika skor WAI rendah atau negatif, maka prospek saham tersebut suram. Dengan kata lain, WAI menjadi indikator apakah mampu meningkatkan kekayaan  (wealth generator) para pemegang sahamnya (investor) atau malah sebagai wealth destroyer.

Baca juga: Penguatan Dolar Bikin Saham-saham di Bursa Asia Jatuh, Terendah Sejak Mei 2020

Nilai WAI diperoleh dengan menghitung total nilai imbal hasil perusahaan (Total Shareholder Return atau TSR) selama lima tahun, kemudian dibandingkan (tepatnya dikurangi) dengan biaya ekuitas (Cost of Equity atau CoE), selanjutnya selisihnya akan dikalikan dengan nilai kapitalisasi pasar masing-masing di awal periode perhitungan.

Adapun 10 besar perusahaan yang mencetak WAI postif tahun 2022 adalah Merdeka Copper Gold, Bank Raya Indonesia, Barito Pacific Timber, Harum Energy, BFI Finance Indonesia, Fajar Surya Wisesa, Indo Tambangraya Megah, Bank Sinarmas, Japfa Comfeed Indonesia, dan PT Timah. Sementara emiten lain yang WAI-nya positif di antaranya PT Solusi Tunas Pratama Tbk dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk.

Kemal E Gani, Group Chief Editor SWA mengatakan tahun 2022 ini pihaknya kembali mengadakan penilaian SWA 100 untuk perusahaan-perusahaan publik yang terdaftar di BEI. "Total kapitalisasi pasar 100 perusahaan tersebut di akhir 2021 tercatat Rp 5.742 triliun, naik 7,5 persen dibandingkan di akhir 2020 (Rp 5.340 triliun),” ujarnya di acara Conference & Virtual Awarding SWA 100: Perusahaan Pencetak Cuan Tertinggi bagi Investor, baru-baru ini.

Dari ratusan emiten, ternyata ada 27 perusahaan yang mampu mencetak WAI positif, lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang hanya 13 perusahaan. Mereka sebelumnya tidak masuk dalam SWA 100 karena kapitalisasi pasarnya di tahun 2016 masih di bawah 100 besar.

Tujuan penerapan WAI sebagaimana diungkapkan Lucky Bayu Purnomo, analis saham dari LBP Institute (Lembaga Pusat Penelitian Ekonomi & Investasi) adalah untuk menyempurnakan perhitungan return yang diperoleh dari pasar dan  pemegang saham perusahaan itu.

Untuk itu, dalam tujuan mencapai kesempurnaan imbal hasil antara pemegang saham perusahaan dan pemegang saham eksternal atau publik, perusahaan harus mampu terus-menerus meningkatkan kapitalisasi pasarnya karena ini merupakan rumus dasar menghitung WAI.

Kapitalisasi pasar yang besar bisa didapat bila ada kepercayaan publik atau pemegang saham terhadap kemampuan perusahaan mendistribusikan kekayaan.

Halaman
12
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved