Rabu, 6 Mei 2026

Kemenperin Minta Industri Pertahanan Optimalisasi Riset Teknologi dari BSKJI

Dirjen ILMATE mengemukakan, balai-balai Kemenperin telah mampu menciptakan teknologi yang dapat mendukung pembaruan produk di industri pertahanan

Tayang:
Penulis: Lita Febriani
Editor: Hendra Gunawan
Lita Febriani/Tribunnews.com
Kementerian Perindustrian melalui seluruh balai besar atau unit pelayanan teknis (UPT) di bawah Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin hadir memberikan layanan dalam hal standardisasi industri, optimalisasi pemanfaatan teknologi industri dan pelayanan jasa industri. 

Berikutnya, partisipasi BBSPJI Keramik dan Mineral Nonlogam dalam penguatan sektor pertahanan, yakni membuat produk rompi tahan peluru, helm tahan peluru serta produk pelapis kendaraan militer sebagai substitusi baja.

Untuk penemuan helm tahan peluru, dilakukan melalui kerja sama riset dengan Balitbang Kementerian Pertahanan dan PT Pindad.

Hasil ini telah mendapatkan paten dengan Nomor ID P 0028082 pada April 2011 lalu dan siap untuk dikomersialkan.

Baca juga: Pernyataan Jokowi Dukung Prabowo, Pengamat: Ada Dua Kemungkinan Pilpres 2024 atau Perkuat Pertahanan

"Kami senantiasa mendukung kemajuan dan kemampuan industri alat pertahanan dalam negeri. Kami juga berharap hasil yang kami kembangkan dapat mengatasi ketergantungan Indonesia pada teknologi dari luar negeri," jelas Kepala BBSPJI Keramik dan Mineral Nonlogam Azhar Fitri.

Selanjutnya, BBSPJI Tekstil memperkenalkan aplikasi kitosan untuk antibakteri pada seragam militer.

Kitosan adalah produk samping hasil laut asal Indonesia, di mana memiliki sifat alami antibakteri dengan kemampuan reduksi pertumbuhan bakteri pada tekstil hingga lebih dari 90 persen.

"Dengan adanya finishing agent chitogiene ini, pakaian seragam tidak mudah bau keringat meskipun tidak dicuci beberapa hari. Hal ini tentu dapat meningkatkan unsur kenyamanan dan sanitasi pribadi para prajurit TNI atau Polri," ucap Kepala BBSPJI Tekstil Cahyadi.

Selain itu, BBSPJI Selulosa menampilkan penggunaan nitro selulosa sebagai bahan dasar propelan untuk pendorong roket.

Selama ini kebutuhan nitro selulosa masih sangat tergantung impor. Oleh karenanya dalam rangka mewujudkan kemandirian industri pertahanan, BBSPJI Selulosa bekerjasama dengan PT Dahana untuk mengembangkan dissolving pulp sebagai bahan baku nitro selulosa.

Kepala BBSPJI Selulosa Sri Bimo Pratomo, menyampaikan peluang pemanfaatan bahan baku serat selulosa Indonesia masih sangat besar karena ketersediaannya cukup berlimpah, di mana salah satunya adalah pemanfaatan Eucalyptus dan Bambu Gombong menjadi nitro selulosa.

"Kami sedang berupaya mengimplementasikan pemanfaatan selulosa ini menjadi produk yang bernilai tambah tinggi untuk kemandirian bangsa," terangnya.

Kemenperin juga memfasilitasi Asosiasi Sistem dan Teknologi Tanpa Awak (ASTTA) tampil di ajang Indo Defence 2022, untuk memperkenalkan berbagai produk drone dalam negeri yang bisa mendukung sektor pertahanan dan keamanan nasional.

Baca juga: Dampingi Prabowo Kukuhkan KRI dr Wahidin Sudirohusodo, KSAL: Bangun Kemandirian Industri Pertahanan

Apalagi, saat ini teknologi drone pertahanan merupakan topik yang semakin ramai menjadi perbincangan sejak konflik Rusia dan Ukraina.

Di samping itu, semakin banyak negara yang mulai tertarik dengan efektivitas teknologi drone yang telah terbukti di medan pertempuran.

Di Indonesia sendiri telah terdapat beberapa perusahaan manufaktur drone yang mampu mengembangkan teknologi tersebut dan tergabung di dalam ASTTA.

Ketua Umum ASTTA Dian Rusdiana Hakim, mengapresiasi upaya Kemenperin dalam mempromosikan kemampuan industri drone lokal melalui berbagai kegiatan pameran internasional seperti Indo Defence.

"Saya berharap kemampuan industri drone lokal dapat lebih banyak dimanfaatkan oleh pemerintah untuk menjaga pertahanan Indonesia sendiri, sebelum dilirik oleh negara lain," ujarnya.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved