Gejolak Rupiah
Anjloknya Rupiah Tanda RI Terjadi Krisis? Ini Penjelasan Akademisi
Berdasarkan pendekatan purchasing power parity (PPP), nilai tukar rupiah seharusnya berada di kisaran Rp15.000 per dolar AS.
Ringkasan Berita:
- Rupiah melemah ke Rp17.400/USD, dipicu faktor global dan arus modal keluar.
- Akademisi nilai belum krisis, tapi ujian serius meski fundamental masih kuat.
- Pelemahan bisa dorong ekspor, namun berisiko bagi sektor impor dan inflasi.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah telah menyentuh level di atas Rp17.400 per dolar AS, meski perdagangan pagi tadi sudah mengalami penguatan ke level Rp17.390 dolar AS.
Lantas apakah pelemahan ini menandakan ekonomi Indonesia sedang mengalami krisis?
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Hefrizal Handra, menyampaikan, kondisi saat ini lebih tepat disebut sebagai ujian ketahanan ekonomi yang serius, meskipun belum dapat dikategorikan sebagai krisis.
Baca juga: Dipanggil Prabowo ke Istana, Bos BI Ungkap Penyebab Nilai Tukar Rupiah Melemah, Ada Faktor Global
Menurutnya, penguatan mata uang dolar AS yang bertahan tinggi, ketidakpastian arah suku bunga global, serta eskalasi geopolitik mendorong investor global meningkatkan kehati-hatian.
“Tekanan global saat ini bersifat persisten (berkesinambungan), tidak lagi sementara. Ini yang membuat tekanan terhadap rupiah menjadi lebih panjang,” ujar Hefrizal dikutip dalam laman Universitas Andalas, Rabu (6/5/2026).
Ia menegaskan, pelemahan rupiah saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi.
Berdasarkan pendekatan purchasing power parity (PPP), nilai tukar rupiah seharusnya berada di kisaran Rp15.000 per dolar AS.
“Artinya, rupiah saat ini diperdagangkan di bawah nilai wajarnya, lebih dipengaruhi sentimen dan arus modal dibandingkan fundamental ekonomi,” jelasnya.
Faktor lain yang memperkuat tekanan adalah kenaikan Credit Default Swap (CDS), yang mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap Indonesia.
Kenaikan CDS mendorong investor global menarik dana dari aset berdenominasi rupiah, baik di pasar obligasi maupun saham, sehingga meningkatkan risk premium Indonesia.
Dalam perspektif historis, kata Hefrizal, kondisi ini memiliki kemiripan dengan beberapa episode sebelumnya, seperti taper tantrum 2013 dan krisis pandemi 2020. Namun, terdapat perbedaan penting.
“Pasar valas saat ini bereaksi lebih cepat terhadap risiko dibandingkan pasar saham. Ini menunjukkan bahwa kekhawatiran lebih banyak terkait stabilitas eksternal dan fiskal,” tambahnya.
Lonjakan harga minyak juga memberikan tekanan tambahan pada APBN melalui peningkatan subsidi dan kompensasi energi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Rupiah-Ditutup-Menguat-Rp16768-per-USD-Sore-Ini_20260127_214352.jpg)