Breaking News:

Harga Minyak Dunia Turun Imbas Kekhawatiran Penurunan Permintaan dan Kenaikan Suku Bunga The Fed

Harga minyak mentah berjangka Brent turun tipis sebesar 13 sen atau 0,1 persen menjadi 89,65 dolar AS per barel.

Hydrocarbon Engineering
Ilustrasi minyak mentah. Harga minyak mentah berjangka Brent turun tipis sebesar 13 sen atau 0,1 persen menjadi 89,65 dolar AS per barel pada perdagangan hari ini, Jumat (18/11/2022), pukul 07:37 GMT. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 13 sen atau 0,2 persen menjadi 81,77 dolar AS per barel 

Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni

TRIBUNNEWS.COM, MELBOURNE - Harga minyak merosot dan berada di jalur penurunan tajam mingguan di tengah kekhawatiran melemahnya permintaan di China dan kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve AS (The Fed).

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent turun tipis sebesar 13 sen atau 0,1 persen menjadi 89,65 dolar AS per barel pada perdagangan hari ini, Jumat (18/11/2022), pukul 07:37 GMT.

Harga Brent hari ini tidak jauh dari posisi terendah dalam empat minggu terakhir di level 89,53 dolar AS per barel yang dicapai di sesi perdagangan sebelumnya.

Baca juga: Harga Minyak Jatuh Imbas Meredanya Ketegangan Geopolitik

Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 13 sen atau 0,2 persen menjadi 81,77 dolar AS per barel. Harga WTI turun 8 persen sejauh minggu ini, sementara Brent turun lebih dari 6 persen.

Indeks dolar AS beringsut lebih rendah pada hari ini, membuat minyak lebih murah bagi pembeli yang memegang mata uang lainnya.

"Saya benci menggunakan mantra short-covering yang lemah, tetapi sejauh ini ada sedikit hal lain selain greenback yang sedikit lebih lemah untuk memicu penawaran beli di bawah minyak," kata mitra pengelola di SPI Asset Management, Stephen Innes.

Analis mengatakan kekhawatiran mengenai potensi penguncian atau lockdown di China untuk menghentikan lonjakan kasus Covid-19 dan kekhawatiran mengenai kenaikan suku bunga lebih lanjut yang dapat mendorong ekonomi AS ke dalam resesi menjadi penyebab pasar bahan bakar terpuruk.

Pernyataan dari pejabat The Fed pada pekan ini dan data penjualan ritel yang lebih kuat dari perkiraan telah memupus harapan untuk moderasi kenaikan suku bunga yang agresif di Amerika Serikat.

The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Desember, setelah empat kenaikan berturut-turut 75 basis poin, menurut jajak pendapat Reuters.

"Dalam waktu dekat sentimen kemungkinan akan tetap negatif mengingat gambaran makro yang memburuk dan tanda-tanda kelemahan fisik," kata Warren Patterson, kepala strategi komoditas di ING.

Sementara di China, importir minyak terbesar di dunia, melaporkan 23.353 infeksi Covid-19 baru pada 17 November, naik dari 23.276 kasus baru sehari sebelumnya, menurut data Komisi Kesehatan Nasional China hari ini.

"Pengaturan kebijakan di kota Guangzhou di Cina selatan, di mana kasus COVID-19 telah melonjak secara signifikan, penting untuk diperhatikan," kata analis komoditas di Commonwealth Bank, Vivek Dhar dalam sebuah laporan.

Kota Guangzhou merupakan pusat manufaktur utama di China dan memiliki total penduduk 19 juta orang.

Kekhawatiran resesi telah mendominasi pekan ini dengan larangan Uni Eropa terhadap minyak mentah Rusia yang mulai berlaku pada 5 Desember dan Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, atau dikenal sebagai kelompok OPEC+, telah memperketat pasokan.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved